Tag

, , , , , ,

gracillaria cast: Bee, Christian, Henry, Simon

url: http://wp.me/p1rQNR-3j

Bee membuka kunci gedung itu dan melangkah masuk. Ah, belum ada yang datang, pikirnya. Ruang depan gedung itu masih gelap. Hanya satu lampu koridor yang menyala. Gadis itu melirik jam tangannya. Sudah pukul 7. Kenapa belum ada yang datang ya? Dia merasa heran.

Sembari menaiki tangga dia berusaha mengingat jam berapa mereka seharusnya berkumpul. Kalau tidak salah kemarin Simon mengatakan bahwa dia mengharapkan kehadiran semuanya pada pukul 7.

Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Akh, bodohnya aku, pelan ditepuknya kening lalu dia berlari turun lagi ke lantai dasar. Di tangga dia berbelok ke kiri dan membuka pintu tepat di sebelah tangga.

Ceklek.

Terkunci.

Berarti memang belum ada yang datang. Ruang seminar ini masih terkunci, jadi pasti Simon saja belum datang. Akhirnya dia memutuskan untuk naik ke atas, ke lantai dua untuk menyimpan tas kemudian membuat kopi di dapur yang terletak di lantai tiga.

Selagi menunggu air panasnya mendidih, dia membuka kulkas, berharap masih ada roti tawar tersisa. Dia menyadari perutnya yang lapar saat hendak berangkat tadi, tapi masih terlalu pagi baginya untuk berkutat di dapur. Dia malas menggunakan dapur di pagi hari, sebab dia pasti harus berbagi dengan anak asrama lainnya yang juga hendak membuat sesuatu untuk perut mereka. Bukan apa-apa sih. Berbasa-basi di dapur pagi-pagi hanya bukan sifatnya. Itu saja.

Ternyata tak ada lagi roti di dalam kulkas. Ah, padahal perutnya lapar sekali. Akhirnya dia mengobrak-abrik rak yang bertuliskan Gracillaria. Bukan, rak itu bukan rak berisi Gracillaria si rumput laut invasif, dan bukan juga dia hendak memakan rumput laut itu mentah-mentah. Itu hanya rak makanan di dapur yang isinya adalah kumpulan makanan dari tim Gracillaria, seperti dirinya.

Hmm, sepertinya Henry masih meninggalkan setengah bungkus fusilli, Bee senang melihat ‘penemuan’nya. Dia segera membuka lagi kulkas untuk melihat apakah saos tomat miliknya masih ada. “Yes!” serunya tertahan ketika menemukan apa yang dicarinya.

Dia tidak peduli sekalipun ini masih terlalu pagi untuk menyantap pasta. Dia lapar.

Air panas mendidih. Bee meletakkan saos tomat dalam genggamannya lalu meraih teko kopi. Dengan cepat dibuatnya kopi dalam teko, kemudian sisa air panasnya dia tuang ke dalam cangkir yang sudah dia siapkan untuk dirinya sendiri. Sedang begitu, Bee melihat kompor. Lagi-lagi dia mendesah, kesal karena lupa memanaskan kompor. Ditinggalkannya urusan kopi dan minumannya dalam sedetik untuk menyalakan kompor. Pagi-pagi musim dingin begini, kompor listrik model kuno memang harus dinyalakan lama sebelum dapat digunakan.

Akhirnya kopi siap. Tinggal disaring saja, sementara dia juga sudah memasukkan kantung teh herbal dalam cangkirnya. Sekarang dia akan merebus fusilli, mulai menyiapkan sarapannya.

Bee menikmati sarapannya dua puluh menit kemudian. Instan. Yang penting kenyang. Sambil makan dengan tenang, dia memikirkan kembali isi penelitiannya. Tim Gracillaria hendak menghadiri seminar ekologi alga di Copenhagen satu bulan lagi. Karena ini adalah kerja tim, maka mereka harus berdiskusi mengenai isi hasil penelitian yang hendak ditampilkan. Saat ini ketegangan sedang memuncak di antara masing-masing anggota tim.

Sembilan orang anggota tim, masing-masing memiliki ide yang berbeda untuk seminar tersebut. Banyak sekali kepala yang ikut berpikir, sementara mereka hanya memiliki satu kesempatan untuk memaparkan hasil penelitian mereka. Dia mendesah. Rasanya tidak rela kalau hasil kerjanya tidak ditampilkan, tapi tentu saja yang lain juga berpikiran yang sama. Sepertinya hari ini akan penuh pertentangan seperti kemarin.

Tiba-tiba seseorang memasuki ruang makan tempat Bee sedang sarapan. “Moin!” Christian menyapa Bee.

Bee tersenyum. “Moin!”

“Kau sedang sarapan? Pagi sekali kau datang.” Christian bertanya pada Bee.

“Ya. Aku ingat Simon menyuruh kita berkumpul pukul 7, kan? Kenapa kau baru datang?”

Christian berjalan ke arah dapur. Di pintu dapur dia menatap Bee. “Benarkah? Pukul 7? Dia pasti gila. Semua orang masih tidur jam segitu!”

Bee mendengus. Agak kesal juga hatinya. Dia sudah bangun pagi-pagi, mengira dirinya terlambat, malah yang datang belakangan datang dengan santainya dan secara tidak langsung mengatakan dia salah jadwal.

“Hey, kau sudah membuat kopi?” tanya Christian keras dari arah dapur.

Bee ikut berseru, “Ya. Kau tinggal menekan penyaringnya.”

Wajah Christian muncul dari pintu dapur. “Kau mau aku membuatkan teh? Kau dan Mandy tidak minum kopi, kan?”

“Aku sudah mendapatkan tehku,” Bee mengangkat cangkirnya. “Tapi aku tidak tahu dengan Mandy. Biasanya dia sudah membuatnya sendiri di rumah.”

Christian tampak berpikir, lalu memutuskan dia akan tetap membuatkan teh. Mendengarnya, Bee hanya mengatakan “Baiklah,” lalu meneruskan makannya.

Christian masih sibuk menunggui air panas ketika Bee memasuki dapur untuk mencuci piring bekas makannya. “Apakah belum ada yang datang waktu kau naik tadi?” tanya Bee pada Christian.

Pria itu menggeleng. Lalu karena melihat Bee tidak mempehatikannya karena sedang mencuci piring, dia menjawab, “Aku tidak melihat seorang pun.”

Damn!” Bee mengumpat kesal. Entah mengapa moodnya buruk sekali pagi ini. “Sebenarnya kita harus kumpul jam berapa sih?”

Christian mengangkat alisnya mendengar umpatan pertamanya hari ini. “Setahuku kita harus berkumpul seperti biasanya, pukul 9. Dari mana kau dapat ide untuk berkumpul jam 7? Itu masih pagi buta.”

Bee mengelap tangannya tanpa memperhatikan Christian. “Entahlah. Aku mendengarnya di suatu waktu kemarin, dan aku pikir semua orang menyepakatinya. Mungkin akulah yang salah. Ah, aku mau melihat matahari terbit saja kalau begitu.”

“Then, pakai pakaianmu lengkap-lengkap. Pagi ini dingin.” Christian mengingatkan.

Bee menggerutu dalam hati. Dia juga sudah tahu pagi ini dingin. Tidak usah diingatkan dia sudah merasakannya sendiri tadi pagi-pagi sekali.

Sekali lagi Bee mengisi cangkir tehnya yang telah kosong dengan sisa air panas yang direbus oleh Christian. Lalu menambahkan sedikit gula ke dalamnya, memutuskan dia membutuhkan yang manis-mains untuk memperbaiki moodnya. Setelah itu dia melangkah melewati ruang makan dan membuka pintu ruangan yang tidak terlalu terpakai, melewatinya juga, terus menuju balkon timur.

Balkon itu disebut demikian karena menghadap ke arah timur. Biasanya digunakan untuk merokok oleh teman-teman Bee yang perokok. Sementara Bee sendiri memanfaatkannya jarang-jarang. Seperti pagi ini, dia memutuskan untuk menggunakannya karena tidak tahu harus merasa bagaimana. Seperti yang tadi telah disebutkan, moodnya tidak begitu baik hari ini. Gadis itu berharap udara dingin di luar dan teh manis hangat bisa meningkatkan semangatnya.

“Kau masih mau di sini atau turun?” Christian berseru padanya dari dalam.

“Aku masih mau di sini. Tapi bisakah kau memberitahuku kalau yang lain sudah datang dan mau mulai?”

“Oke, akan ku telepon kau,” pria itu menjawab. Lalu tak lama kemudian Bee mendengar derap langkah Christian menuruni tangga.

Semburat warna violet sudah muncul di kaki langit. Bee terpana menatapnya. Otaknya kosong. Dia tidak memikirkan apapun dan tidak berniat memikirkan apapun. Tangannya memegang cangkir teh erat-erat, menyerap kehangatannya. Pembatas balkon ditutupi salju, begitu pula dengan jalanan di bawah sana. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan pembersih salju membersihkan jalanan. Lalu dia melihat truk sampah mendekati tempat sampah institutnya. Pekerjanya mengambil sampah dengan cekatan, lalu pergi sesaat kemudian. Cericip burung mulai terdengar. Beberapa kelompok terbang di langit, memulai aktivitasnya mencari makan.

Langit semakin terang, dan cangkir Bee sudah kosong lagi. Dia masuk dan memutuskan untuk membuat cangkir teh ketiganya. Saat sendirian begitu, dia merasa lebih baik. Paling tidak dia tidak harus menjaga sikap di hadapan orang lain.

“Hey!” seseorang menyapanya dari balik punggung.

Bee yang tadi larut dalam pikirannya merasa terkejut sesaat lalu bernafas lega karena dilihatnya Henry sedang berdiri di belakangnya. “Hey,” sapanya balik pada pria asal Hongkong itu.

”Kau sendirian?” tanya Henry.

“Ya. Tadi Christian ada, tapi dia sudah turun lagi. Kau tidak bertemu dia di bawah?”

“Ah ya, tadi aku melihatnya. Tapi kami belum bertemu sebab aku langsung naik.”

“Simon belum datang?” Bee bertanya.

“Belum, belum. Padahal katanya kita harus berkumpul jam 8. Ini sudah hampir jam 8, tapi dia malah belum nampak sama sekali.” Henry menjawab sambil menuju rak makan. Pria itu meletakkan sesuatu di sana. Dia dan Chitose adalah yang paling rajin menyimpan bahan makanan di rak itu sebab keduanya sama-sama tidak mau memakai dapur di asrama mereka. Untuk banyak alasan.

Bee mengernyitkan kening mendengar jawaban Henry. Dia ingin mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan jadwal mereka, tapi memutuskan untuk mengatakan hal yang lain dulu, “Ah, Henry. Tadi aku menggunakan fusilli-mu. Tidak ada roti, padahal aku lapar sekali. Jadi aku memasak fusilli. Nanti siang aku belanja, akan kuganti fusillimu.”

Henry menatapnya. “Oh, baiklah. Taruh saja di sini,” kemudian sibuk lagi mengeluarkan bahan-bahan makanan.

“Tadi kau bilang kita harus kumpul jam 8?” Bee bertanya penasaran pada Henry.

“Ya.” Henry menjawab singkat.

“Aku pikir kita seharusnya kumpul jam 7?”

Henry menoleh terkejut padanya, “Hah? Dari mana kau dengar itu?!”

“Aku mendengar Simon mengatakannya kemarin. Anehnya, Christian berpikir bahwa kita seharusnya berkumpul seperti biasanya, jam 9.”

“Aku cukup yakin mendengar Simon mengatakan kita harus berkumpul jam 8.”

“Aku pun yakin dia mengatakan pukul 7. Makanya aku datang sebelum pukul 7 tadi. Saat itulah aku merasa ada yang tidak benar.”

Henry telah selesai meletakkan barang-barangnya. “Sebaiknya kita ke bawah sekarang.”

Bee merasa malas. Entah bagaimana dia berpikiran bahwa Simon belum datang dan pasti kelas akan dimulai pukul 9. Jadi dia menjawab, “Aku masih ingin di sini. Bisakah kau memberitahuku kalau kita benar-benar mulai jam 8? Aku akan langsung turun nanti.”

Henry mengangguk. “Baiklah. Tidak masalah,” jawab pria itu mengangguk lalu meninggalkan Bee.

Bee sendiri berjalan kembali menuju balkon. Entahlah. Dia hanya ingin berada di sana, menikmati dinginnya pagi. Kini langit sudah berwarna lebih terang. Campuran antara biru, ungu, jingga, dan pink. Cantik sekali. Tanpa awan. Semuanya bersih. Dengan leluasa dia bisa melihat langit yang terkadang dihiasi oleh kelompok burung-burung yang terbang. Sungguh indah.

“Hey, Bee!” terdengar suara Christian di belakangnya. “Simon belum datang, kurasa kita benar-benar akan mulai jam 9.”

Bee menoleh tanpa semangat. “Oke, terima kasih sudah memberitahuku.”

“Tidak masalah. Kalau begitu aku kembali ke bawah. Sampai nanti!”

“Sampai nanti.”

Setelah kepergian Christian, Bee merasakan kantuk yang teramat sangat. Matanya tiba-tiba berat luar biasa sampai pusing rasanya dia menahan kantuk. Dia memasuki ruangan dan duduk di satu ranjang yang memang tersimpan di tempat itu. Direbahkannya kepala lalu dalam sekejap dia tertidur pulas.

***

Suara apa itu? Mengapa mengganggu sekali? Bee membuka matanya. Kini langit sudah terang sepenuhnya. Bee mengerjapkan matanya. Benarkah dia tertidur? Dia memang merasa lebih segar sekarang, tapi tidak benar-benar segar.

Suara yang membangunkannya terdengar dari atas kepalanya. Dia pun menoleh ke arah sumber suara. Astaga! Itu Simon. Apakah mereka telah mulai? Jam berapa ini?

Shit! Shit! Ini sudah jam 10 lewat. Tentu saja mereka sudah mulai! Bee merasakan desakan untuk segera bangun, tapi mengurungkan niatnya. Mengapa mereka berkumpul di sini, di lantai 3? Bukan di ruang seminar seperti biasanya? Apakah mereka tidak menyadari aku ada di sini? Padahal Christian dan Henry pasti tahu kalau aku ada di sini. Mengapa mereka tidak membangunkanku? Banyak pikiran berkecamuk dalam benak Bee.

Ada yang datang! Bee segera meletakkan kembali kepalanya di bantal.

“Hey, Bee. Bangun. Kita sudah mulai,” Christian berusaha membangunkan Bee dengan satu teko berisi kopi di tangan dan satu piring biskuit di tangannya yang lain.

Bee tidak bergeming. Meneruskan usahanya untuk pura-pura tidur. Dari ruangan sebelah terdengar suara Simon, “Christian, coba bangunkan Bee.”

Christian melangkah keluar ruangan tempat Bee tidur. “Sudah kucoba. Dia masih tertidur.”

Lalu tidak terdengar apa-apa lagi. Mereka seperti tidak peduli pada Bee. Mereka meneruskan diskusi mereka tentang seminar bulan depan. Perlahan Bee membuka mata, berusaha agar badannya tidak bergerak. Matanya menatapi langit biru.

Apa yang telah dia lakukan? Sesalnya. Kenapa dia bisa tertidur begitu lelap? Mengapa mereka tidak membangunkannya? Mengapa mereka tetap melanjutkan pembicaraan itu tanpa dirinya? Apa yang terjadi sebenarnya?

KKEUT.

Ga perlu dipikirin ini cerita apa. Ini bukan ff, itu udah pasti. Inti ceritanya apa? Geje. Jadi akhirnya gimana? Gapen. Soalnya ini cuman mimpi. Mimpi yang semena-mena berenti sebelum orang yang mimpiin sadar dia lagi ngimpi. Tapi untung cuman ngimpi. Kalo ga, ga kebayang deh malunya ketiduran di jam kerja begitu.


Iklan