Tag

, , ,

Cast: Annika, Bee

Url: http://wp.me/p1rQNR-2R

Ini bukan FF. Tapi cerpen. Bukan 100% fiksi. Meski kesannya geje, tapi inspirasinya adalah dari kejadian yang sebenarnya.

“Jadi apa bedanya suami sama pacar?”

Dia melontarkan pertanyaan itu dengan muka penuh kebingungan dan keprotesan.. Wah, wah, apa pula keprotesan itu? Hehe..

Aku memandangnya dengan sejuta arti dan hanya secuil kata-kata di ujung lidah. Perempuan di hadapanku ini memiliki mata biru bercorak hijau dengan pancaran jujur. Matanya tidak mengatakan hal yang berbeda dengan yang mulutnya lontarkan. Di depannya lidahku kelu, meski segepok logika berpilin-pilin dalam pikiranku. Logika yang didasarkan pada pengalaman hidup, kebudayaan, serta kepercayaan yang aku geluti sepanjang hidup.

“Beda dong. Suami itu bisa dikategorikan barang legal untuk beberapa aspek.” Jawabku akhirnya.

Dia sedikit terperangah menatapku. Tatapannya mengharapkan aku hanya bercanda. “Jangan bilang pacar itu dilarang secara hukum..”

Aku tersenyum, “Nggak kok. Pacaran itu bebas aja kalau kita bicara mengenai hukum Negara. Tapi, dalam hukum agamaku, seharusnya pacaran itu ngga perlu dan bisa menjadi hal yang dilarang kalau perilaku berpacarannya sama dengan perilaku bersuami.”

Ah… apalagi coba yang bisa kujelaskan? Dalam pikirannya falsafah agama tidak begitu penting. Human society tidak ada hubungannya dengan agama. Dalam pikirannya agama adalah aplikasi ilmu psikologi  dimana kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan hanyalah sugesti. Baginya biologi dan pengungkapan ilmu pengetahuan adalah dasar keberadaan society. Maka tak heran jika ia berkomentar dengan nada suara penuh kemakluman, “Ah… agama toh.”

Aku benci jika harus menyinggung agama di depannya.

“Jangan salah paham. Kita hanya berbeda kultur dan kepercayaan. Itu saja.” Kataku dengan nada setengah defensif.

“Nggak masalah, kok. Aku cukup paham. Aku sudah mengunjungi banyak tempat dan cukup paham bahwa agama adalah hal yang paling berperan bagi segala tindakan dan keputusan dalam masyarakat dunia,” jawabnya.

Baiklah. Cukuplah walau hanya begitu pemahamannya.

“Tapi aku masih nggak ngerti mengapa status pacar dan suami harus dibedakan,” lanjutnya. ” Meski kamu mengatakan secara agama itu tidak perlu, tapi bukankah pacar dan suami hanya berbeda secara hukum?”

Aku tertunduk mencari jawaban. Dan jawabannya tidak ada di sana.

Kuhela nafas, “Pacar itu…”. Aku mengangkat mukaku dan mendapati wajahnya menanti jawabanku. Lagi-lagi aku terpaku pada matanya dan kata-kataku membeku.

Setiap kali berbicara aku makin disadarkan bahwa bicara bukanlah bidangku. Aku makin membenci bicara ketika harus melakukannya dalam bahasa Inggris seperti saat ini.

Akhirnya aku menemukan satu kata yang mengaitkan hampir semua yang ingin kubicarakan. “Sex,” kataku.

Dia terdiam. Masih tidak mengerti.

Bolehkah aku bicara? Aku tidak terlalu mengerti agama, maka aku ragu untuk bicara. Aku merasa kapasitasku dalam ilmu agama tidak begitu berbobot sehingga aku takut apa yang ingin kukatakan malah membuatnya berpikir bahwa keberadaan Tuhan itu terlalu dibesar-besarkan. Lagipula dia seorang ilmuwan, aku takut kepercayaanku pada keberadaan Tuhan dan keinginanku berada pada batas yang ditentukan Tuhan justru akan dianggapnya sebagai tindakan percaya buta tanpa berdasar pada logika. Aku tidak mau dia menganggap agamalah yang membatasi gerak manusia.

Well, sepanjang pengertianku, agamaku sangat melarang seks bebas.

“Saat ini kamu berada di Indonesia bukan hanya sebagai turis. Kamu adalah bagian dari masyarakat sekarang ini, maka dari itu aku memberitahumu bahwa masyarakat Indonesia juga menganggap seks bebas itu masih tabu.

“Suami bagi wanita Indonesia adalah simbol kelegaan. Paling tidak bagi kebanyakan wanita Indonesia. Ketika akhirnya bersuami, wanita Indonesia akan merasa ‘inilah tujuan akhirku’ (bukan ‘hidupku berakhir di sini’ ya..). Kehidupan setelah menikah akan selalu berbeda dengan sebelum menikah. Tentu saja.”

Dia mengangguk-angguk. “Aku mengerti. Tapi aku tidak mengerti.”

Aku tahu apa yang dirasakannya. Setelah bersama dengannya selama beberapa waktu, aku memahami logikanya, meski tidak bisa menyetujuinya. Dan mengingat itu logikanya selama dia hidup, aku menjadi bisa untuk meraba jalan pikirannya. Dia bingung. Begitu pun aku. Maafkan aku, Teman. Untuk masalah ini, diskusi kita tidak bisa berakhir dengan memuaskan. Aku tidak mampu membuatmu melihatnya secara jelas. Mungkin nanti, saat aku sudah lebih pandai memahami manusia, atau saat aku sudah lebih ikhlas dengan jalan hidupku.

KKEUT.

Iklan