Kami semua ini perempuan.
Mengapa susah sekali menghargai kami?
yang mengalah saat kau marah,
yang terdiam ketika kau kalap,
yang tersenyum sewaktu kau bahagia

Kami semua ini perempuan.
Mengapa susah sekali memaklumi kami?
yang menangis karena kau bersedih,
yang terluka sebab dukamu,
yang sakit akibat keterpurukanmu

Ayahmu, ibu kamilah yang menemaninya
Anak lelakimu, kamilah yang merawatnya
Kakekmu, nenek kamilah yang bersamanya
Dirimu, kamilah yang memujanya
Lantas mengapa susah sekali menghalusi kami?

Kami semua ini perempuan.
Mengapa susah sekali mengangkat derajat kami?
hanya agar setara di matamu,
hanya agar tidak kau lecehkan,
sekedar menjadi yang berjalan di sampingmu, bukan di bawahmu

Kami hanya perempuan,
Tapi justru karena itulah,
Kami ini perempuan!

 

Ini tertulis setelah melihat realita hari ini.

Realita menyakitkan dimana wanita dianggap hanya untuk berada di rumah, menengadahkan tangan meminta uang dari suami. Realita menyesakkan dimana wanita hanyalah penjaga anak, yang dianggap tak perlu mengharap dihargai. Realita menyedihkan dimana di dalamnya terlihat wanita-wanita yang bekerja di tambak, mengangkati beras, mengayuh becak, membajak sawah demi anak di gendongannya, sementara si pria main gaple dan ‘mencari relasi’ tanpa hasil nyata.

Tidak semua wanita begini, namun tidak bisa dinyatakan ini hanya fiksi. Masih ada, dan pasti masih akan ada. Selama kesadaran tidak dibangunkan, ketidaksadaran akan terus meraja lela.

 

Iklan