Tag

, , , ,

Author : Bee

Main Cast : Donghae, Bee, Lee-eon (alm.)

Support Cast : Siwon, Leeteuk, Eunhyuk, Yuri SNSD

OST: Last Carnival by Norihiro Tsuru

Warning: angst… (?bener ga sih ini angst?)

Url: http://wp.me/p1rQNR-2v

=======================

Abis baca postingan Donghae tentang Michael, terus aja kepikiran bikin ini. Mohon komen. Sekalian, malah jadi inget Lee-eon. Hiks, hiks, sedih…

=======================

Bee melihat sosok itu. Terbaring pucat di atas ranjang. Perasaannya mengatakan dia seharusnya mengenali wanita itu. Tapi entah kenapa dia tidak mampu mengingatnya. Pun demikian, hatinya hanya mengatakan, “Tidak apa-apa, kau tidak harus mengingatnya.”

Dia pun tersenyum. Ini tempat yang aneh. Semua orang menangisi wanita itu. Di sekeliling tempat tidurnya, setiap mata berkerut-kerut jelek meneteskan air mata. Anehnya dia tidak merasa sebal, kepada wanita itu pun tidak, meski wanita itulah yang menyebabkan tangisan semua orang, termasuk tangisan suaminya, Lee Donghae.

Dengan penasaran Bee mengamati wanita itu. Rambutnya telah habis, untung keluarganya masih mau menutupinya dengan sesuatu sehingga dia tidak tampak jelek sekali. Bibirnya pucat dan pecah-pecah. Mukanya lebih pucat lagi. Intinya, wanita itu sangat mengerikan. Matanya yang tertutup melesak ke dalam, tangannya hanya tinggal tulang, dan kukunya… Bee bergidik ngeri melihat kuku wanita itu. Patah-patah, terpotong di sana-sini. Mengenaskan.

“Beristirahatlah dengan tenang,” seseorang mendekati wanita itu sambil mengelus pipinya.

Bee memiringkan kepalanya, takjub melihat bahwa orang itu tidak jijik. Sementara di sampingnya, Donghae menangis makin keras. Dari sisi lain, seorang wanita setengah baya meraih lengan Donghae lalu mereka berpelukan sambil menangis makin keras.

Orang yang tadi menyentuh pipi wanita di atas ranjang itu menitikkan air matanya dalam diam. Seorang wanita cantik menghampiri dari belakangnya, “Siwon ssi, tabahlah. Sepupumu pasti sedang bahagia sekarang karena telah lepas dari penderitaannya.”

Mata Bee melebar. Ah, dia mengingatnya sekarang. Laki-laki itu Siwon-a. Siwon yang… ah, apa ya? Kenapa dia lupa? Tapi Bee merasa yakin bahwa dia mengenal Siwon dengan baik. Pandangannya beralih ke wanita cantik yang masih mengelus-elus punggung Siwon. Dia bernama Yuri, Bee yakin itu. Tapi siapa dia? Selain istri Siwon, tentunya.

Siapa wanita itu? Lalu wanita setengah baya yang memeluk Donghae ini? Kemudian orang-orang lain di sekitar kami. Siapa mereka? Bee sangat-sangat ingin tahu. Dia mengingat mereka tapi juga tidak mengingat mereka. Wajah-wajah itu dia kenali namun siapakah mereka? Lalu dia tersenyum kecil. Tawanya terlepas pelan, membuatnya langsung menutup mulut karena takut dimarahi sebab tertawa di saat yang lain berduka. Kenapa dia harus ingin tahu? Toh mereka sedang sibuk berduka.

Pelan Bee mendekati wanita di atas ranjang. Tangannya terulur hendak menyentuh kulit wanita itu. Tapi terhenti. Karena isakan Donghae yang semakin keras.

Bee memagutkan bibirnya sebal. Berlebihan sekali sih suaminya itu. Memang wanita ini siapa? Sebegitu berartinyakah dia untuk suaminya?

Meski begitu Bee melangkah mendekati Donghae. Hatinya sakit juga melihat suaminya bersedih seperti ini. “Uljima,” katanya pelan mengelus rambut Donghae dari sisi yang berlainan dengan wanita setengah baya yang tadi memeluk Donghae-nya.

“Uljima, Shillyang… Appeuji malgo, aku di sini…”

“Mianhae…” Donghae sesenggukan. “Mianhae, mianhae, Jagiya… Mianhae…” tangisnya pilu sekali.

Ah, dia memang pria yang baik. Bahkan dalam kesedihannya dia masih mau meminta maaf padaku. Kukecup pipinya lembut. Merasa bersyukur mendapatkan suami sepertinya. Pandangan Bee lagi-lagi ke arah wanita di atas ranjang itu. Dengan tubuh begitu, apakah dia mempunyai orang-orang yang mencintainya seperti Donghae mencintaiku? Pikirnya.

Namun dia tidak merasa kasihan pada wanita itu. Meski jelek, dia tampak damai. Dan lega. Ah, mungkinkah sakitnya sudah sembuh? Bee tiba-tiba teringat bahwa wanita itu seharusnya sedang sakit.

Seorang dokter berjalan mendekati wanita di atas ranjang tersebut. Pelan dia mencabut selang yang terpasang di tangan wanita itu. Bee berjengit melihatnya. Rasanya dia ikut sakit ketika jarum dikeluarkan dari tubuh wanita itu. Ah, pasti sedikit banyak dia sudah terpengaruh orang-orang ini. Bee merasa dia pasti sudah bersimpati pada si jelek itu sehingga rasanya ikut menyakitkan ketika sesuatu terjadi pada tubuh kaku itu.

Tangan si jelek itu kemudian ditekuk di atas perut oleh dokter dan selimutnya dinaikkan hingga ke kepala. Bee menanti itu terjadi. Tanpa sadar nafasnya tertahan karena dia ingin tahu apa yang akan terjadi saat selimut ditutupkan ke wajah wanita itu. Dia hampir yakin bahwa begitu selimut itu ditutup, wanita itu akan langsung membukanya lagi sambil berteriak, “Kejutan! Aku tidak jadi mati!”…

“Ahahaha,” membayangkan itu tawa Bee spontan terlepas. Dia segera menutup mulutnya, takut ada orang yang mendengar. Dia tak mau merusak rencana jail wanita itu. Ah ya, perlahan dia mengingatnya sekarang.

Si jelek itu adalah wanita ceria yang suka tertawa dan suka mengerjai orang. Dasar bodoh. Kenapa dia sampai melupakan hal itu ya? Bee tersenyum kali ini.

Tapi wanita itu tidak berteriak mengejutkan semuanya. Justru Donghae yang malah jadi panik. “Andweh!” serunya menerjang si dokter.

Dokter terkejut melihat hal itu. Donghae dengan panik membuka selimut dari wajah wanita itu. “Tidak!” seru pria itu kalap.

“Kau tidak boleh mati! Bangunlah! Bangun!” Donghae mengguncang-guncang tubuh wanita itu. Tangannya mencengkeram kedua lengan wanita itu sangat keras.

Dari tempatnya berdiri, Bee mengernyit seolah menahan sakit. Dia bisa membayangkan sekuat apa cengkeraman Donghae. Dia kan istrinya, jadi dia bisa tahu dengan pasti kalau hanya hal seperti itu.

Dokter segera menahan Donghae. Berusaha menghentikannya mengguncang-guncang tubuh yang sudah mulai mengeras itu. “Lee Donghae ssi! Hentikan! Lee Donghae ssi!” seru si dokter.

Karena merasa usahanya tidak akan berhasil, dokter itu pun memandang memohon bantuan pada orang lain di sekitarnya. Eunhyuk dan Leeteuk segera membantu dokter itu. Keduanya mencengkeram erat lengan Donghae dan menariknya dari sisi ranjang.

“ANDWEH! LEPASKAN AKU! DIA HARUS DIBANGUNKAN! DIA HARUS BANGUN! Dia harus bangun…” Donghae terus meronta-ronta sampai akhirnya dia melemas.

Melihat sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri itu begitu terpuruk, air mata Leeteuk tak tertahankan. “Donghae-a, gaja. Relakanlah. Dia sudah pergi,” katanya berbisik di telinga Donghae.

Donghae menggeleng-geleng menolak kenyataan. “Dia tidak boleh pergi… tidak boleh…” Lututnya tertekuk lemas. Kalau Leeteuk dan Eunhyuk tidak memeganginya, dia mungkin sudah tersimpuh di lantai.

“Donghae-a, kau butuh istirahat. Jangan begini,” kali ini Eunhyuk yang berkata.

Donghae masih meracau, “Dia tidak boleh pergi… Aku tak mau dia pergi… Dia tak boleh pergi…” Air matanya bercucuran, lantai linoleum milik rumah sakit di bawahnya mulai basah.

Di balik punggung Donghae, Bee menatap suaminya itu dengan hati tersayat-sayat. Meski kenyataannya wanita itulah yang membuat Donghae-nya seperti ini, hati Bee lebih sakit karena melihat betapa terlukanya Donghae. Dia mengikuti pelan, tanpa suara di belakang Donghae ketika suaminya itu dibawa, ah ani, ditarik oleh Leeteuk dan Eunhyuk keluar dari ruangan itu. Di pintu, Bee menoleh ke sosok kaku di atas ranjang.

Tubuh itu akhirnya telah sepenuhnya ditutupi selimut. Di atas gundukan tangannya, Siwon meremasnya dari balik selimut. Begitu juga dengan dengan wanita setengah baya yang tadi memeluk Donghae. Wanita itu bahkan menunduk memeluk jenazah.

“Kau sudah dicintai oleh Siwon dan ibumu, apa kau masih mau tertidur begitu?” bisik Bee. Tiba-tiba dia tersenyum seolah mendapatkan jawaban dari orang mati itu, “Baiklah kalau itu maumu. Aku tidak bisa membencimu walau kau sudah membuat Donghae-ku menangis. Kau pasti orang istimewa,” dia berkata begitu sambil berbalik meninggalkan ruangan itu.

Di jok belakang, kepala Donghae terkulai lemas ke sandaran. Air mata tidak mau berhenti mengalir meskipun Bee sudah berusaha menghapusnya. Seperti tangannya tidak bisa menghapusnya saja. Air mata itu terus turun di pipi suaminya yang sekarang nampak pucat. Di jok depan, Leeteuk menyetir sementara Eunhyuk bolak-balik memperhatikan antara Donghae dan jalanan.

Donghae masih terus menggumamkan kata-kata yang sama sejak mereka meninggalkan rumah sakit, “Dia tidak boleh mati. Dia tidak boleh meninggalkanku…” terus seperti itu hingga mereka sampai ke rumahnya.

Dibantu oleh Leeteuk dan Eunhyuk, pria itu mencapai pintu depan rumahnya, lalu terus menuju kamarnya. Mereka meletakkan, ah bukan, membanting tubuh Donghae ke atas kasur sebab mereka sudah sangat kelelahan menyeretnya sejak dari rumah sakit. Setelah berhenti sejenak mereka mulai membantu Donghae melepaskan sepatu dan kemejanya. Kemudian membiarkan pria itu tergeletak sembarangan di atas kasur dan keluar dari kamar.

Selama itu Bee hanya memperhatikan dari belakang. Barulah setelah kedua sahabat Donghae itu keluar dari kamar, dia melangkah menuju jendela. Membukanya. Donghaenya menyukai tidur dengan jendela terbuka ketika udara malam cerah seperti sekarang ini. Meski lampu kamar sudah dimatikan tadi oleh Leeteuk, namun cahaya lampu dari luar mampu memberikan penerangan yang cukup di kamar itu.

Angin berhembus semilir, melambaikan korden sifon di kamar mereka. Bee menikmatinya. Ah, segarnya udara malam. Malam ini beraroma manis, lembut dan hangat.

“Bee,” terdengar bisikan Donghae memanggilnya.

Bee pun menoleh. Dan tercekat.

Di atas kasur, tubuh bagian atas Donghae terbuka. Kulitnya nampak bagai susu pucat tertimpa cahaya kebiruan dari lampu luar. Wajahnya berurai air mata. Satu demi satu air mata itu membasahi dadanya. Rambutnya awut-awutan sementara bibirnya basah sambil terus memanggilnya, “Bee… Bee…”

Bee pun membalik badannya. Perlahan dia melangkah ke arah Donghae. Wajahnya menyunggingkan senyum. Senyum cinta untuk suaminya. Sambil menaiki kasur, wanita itu berbisik, “Donghae-a…”

“Bee,” Donghae membalas berbisik.

“Uljima, jagiya…” ujar Bee membelai lembut pipi suaminya.

Perlahan mereka merebahkan diri di atas kasur. Saling berdampingan, memandangi satu sama lain. Tangan Bee terus membelai wajah suaminya. Lehernya, bibirnya, semua disentuhnya lembut. Air mata Donghae lama-lama mengering dan dia terus memperhatikan gerakan istrinya. Dengan matanya, dengan kulitnya, dengan perasaannya.

Duka malam ini begitu dalam. Bee ingin menghilangkannya dari dada Donghae. Donghae ingin menghalaunya dengan sosok Bee.

Pelan dan lembut sekali Bee mengecup bibir Donghae. Mata suaminya itu tetap terbuka lebar. Merasakan sentuhan istrinya yang begitu lembut. Wanita ini tidak pernah membuatnya berhenti terkejut. Dia bisa sangat lembut seperti saat ini, meskipun seringkali Donghae kewalahan menghadapi nafsunya dalam mempermainkan orang. Keceriaannya bagai hari cerah di musim semi, sementara kelembutannya sehangat malam musim panas.

Donghae merasa sangat beruntung mendapatkannya. Pikiran itu membuat air matanya merebak lagi. Tidak tahan, dia memanggil istrinya, “Bee…” suaranya parau karena air mata.

“Ssst,” Bee memotong ucapannya. Satu jarinya diletakkan di bibir Donghae. “Apa kau mau menangis lagi malam ini?”

Donghae terpaku menatap istrinya. Lagi? Apakah wanita itu tahu? Bahwa dia menangis setiap malam sejak istrinya itu tidak lagi tidur di sini, di atas kasur mereka?

“Aku tahu,” Bee berujar seolah mendengar pikiran Donghae berbicara keras-keras. “Aku kan istrimu,” ujarnya melanjutkan.

Cepat-cepat Donghae menghapus air matanya. “Kau tahu?” bisiknya.

Bee mengangguk. Wanita itu mencium puncak hidung Donghae.

“Kau mencintaiku?” Donghae harus mendengarnya malam ini. Dia membutuhkannya. Harus malam ini.

“Tidak pernah tidak,” Bee menjawabnya dengan senyum manis.

“Bagaimana dengan Lee-un?” Donghae membawa nama itu lagi. Hal itu menyakitkan baginya, tapi dia harus tahu.

“Aku mencintainya juga. Sampai kematiannya. Aku mencintaimu. Atas hidup yang kau bawakan untukku,” kali ini Bee tidak melakukan apapun. Bahkan tangannya berhenti menyentuh Donghae. Hanya matanya yang mencoba meyakinkan Donghae.

Tepat seperti apa yang dibutuhkan Donghae. Dia meyakininya sekarang. Sampai saat ini dia hanya menganggap dirinya nomor dua. Bahwa Bee hanya mencintai Lee-un. Tapi kini dia tahu bahwa cinta Bee padanya memang ada dan nyata. Wanita itu ada di sini sekarang. Menghiburnya, menghangatkan hatinya. Tidak meninggalkannya. Masih di sini.

Hatinya bahagia meski sakit karena baru sekarang dia mengetahuinya.

“Cium aku,” pinta Donghae.

Dengan patuh Bee menuruti permintaannya. Lembut sekali diciumnya bibir suami tercintanya itu. Tangannya membelai sayang rambut suaminya. Donghae berusaha menyentuhnya, namun Bee menghindar.

Dia menjauh dan menggeleng pelan, “Maaf,” katanya dengan sorot mata menyesal.

Donghae menatapnya. Matanya bagai badai, segala sesuatu berputar-putar di sana. Lalu dia bertanya, “Tidak bisakah kau mencintaiku malam ini?”

Dan hal itu datang. Air mata Bee merebak. Lalu dengan deras menuruni sudut matanya, langsung membasahi bantal. Dalam sekejap, isakannya mengeras. Badannya melingkar seolah ingin melindungi dirinya dari apapun termasuk Donghae. Dia menggelang-geleng kacau. “Aku tidak bisa… tidak bisa… Maafkan aku. Aku tidak bisa. Tidak bisa.”

Bibir Donghae bergetar menahan tangisnya. Kini mereka berdua menangis sesenggukan di atas kasur. Tubuh saling berhadapan, hati sama sakit, kerinduan sama besar. Namun mereka tidak mampu berbuat apapun. Bagaimana pun malam ini tidak bisa. Mereka berdua sudah tahu itu. Tidak malam ini. Kematian itulah yang menyebabkan segalanya menjadi seperti ini di antara mereka.

Mereka terus menangis sampai beberapa lama. Donghae mencoba meraba cahaya lampu yang mengelilingi sosok istrinya, dan mendesah, “Cahaya. Begitu indah, tapi tak dapat disentuh.” Air matanya masih mengalir sesekali, namun isaknya sudah mereda.

Bee menatapnya. Matanya pun masih basah, namun kini Donghae tak lagi kabur dari pandangannya.

Perasaan ringan itu datang lagi di dada Bee. Membuatnya tersenyum. Dalam sekejap dia lupa akan kesedihannya. “Malam ini, kau akan tidur dalam pelukanku,” dia berkata pada Donghae.

Mendengar itu, Donghae hanya tersenyum kecut, “Benarkah?”

“Jangan begitu,” Bee protes. “Kau tidak mau tidur ketika kupeluk?”

“Benarkah kau akan memelukku?”

“Aku yakin begitu,” wanita itu tersenyum pasti lalu mengalungkan tangannya ke tubuh Donghae. Bibirnya bergerak mengecup pelan bibir Donghae. “Tutuplah matamu,” kata Bee.

Donghae menggeleng keras kepala, “Aku tidak mau.”

“Kau butuh tidur, Shillyang…”

“Aku tidak mau.” Donghae tetap keras kepala, bibirnya bergetar.

“Tapi kau harus tidur di pelukanku,” Bee menggumam tak mengerti.

“Aku tidak mau!” akhirnya Donghae menangis lagi. “Jangan suruh aku menutup mataku! Aku tidak mau! Kau tak bisa memberiku cinta malam ini, maka aku pun tak mau menutup mataku!” dia berteriak.

Sedetik kemudian pintu kamar Donghae diketuk. “Donghae-a! gwenchanha?! Buka pintunya!” terdengar suara gagang pintu digerak-gerakkan. Suara Leeteuk dan Eunhyuk memanggil-manggil namanya.

Donghae menatap Bee tajam, “Apa kau yang mengunci pintunya?”

Bee mengangguk. “Karena malam ini milik kita. Kita akan tertidur berpelukan. Kau akan tidur di pelukanku.”

Sinar mata Donghae melemah. “Kenapa? Kenapa kau begitu ingin aku tidur?”

“DONGHAE-A!” kini suara Eunhyuk terdengar mendesak sekali.

“AKU TIDAK APA-APA! JANGAN GANGGU AKU!” Donghae berteriak membalas kekhawatiran teman-temannya itu.

Lalu diam. Mereka berdua tidak lagi mencoba menerobos masuk kamar.

Donghae mengulangi pertanyaannya, “Kenapa kau ingin aku tidur di pelukanmu?”

Bee menatapnya dengan kebingungan yang tidak dibuat-buat. Dia heran mengapa Donghae bertanya seperti itu. Mengapa dia ingin Donghae tidur di pelukannya? Mengapa ada pertanyaan begitu? “Karena…” ucapannya menggantung.

“Cium aku!” perintah Donghae kasar. Air mata masih terus mengalir dari matanya.

Bee menurut dan mencium Donghae. Mereka berdua merasakannya. Ciuman itu. Ciuman yang penuh cinta di antara mereka. Tapi Donghae masih tidak bisa melepaskan pertanyaannya, “Kenapa?” isaknya. “Kenapa?”

Jawaban Bee menyebabkan tangisnya makin keras. “Karena kau lelah dan butuh istirahat.”

Betapa inginnya dia memeluk istrinya itu saat ini, namun tangannya seolah lumpuh. Dia tak mampu bergerak. Hanya mampu menangis. Terus menangis. Sambil terus bertanya, “Kenapa? Kenapa?”

Bee menggeleng-geleng bingung. Dia tak mengerti semua ini. Hanya tahu bahwa hatinya sakit sekali melihat suaminya begini. Di sela-sela isaknya, Donghae bertanya lagi, “Apakah kau lelah?”

Bee kemudian menatapnya. Sinarnya memancarkan kesakitan. Dan Donghae tahu tanpa harus mendengar jawabannya. Ya, istrinya itu sudah lelah. Maka dengan berat hati dia berkata, “Aku akan tidur. Maka kau juga beristirahatlah…” tangisnya muncul lagi, tapi dia tak mau menahannya.

Tiba-tiba Bee mengeratkan pelukannya. Wanita itu menangis di kepala Donghae. “Karena aku ingin memelukmu. Hanya ingin memelukmu. Maka kau harus tidur.”

Donghae semakin sakit mendengarnya. Haruskah aku tertidur? Aku tak ingin begitu. Aku benar-benar tak mau. Seru hatinya. Namun terbayang lagi pancaran kesakitan dan kelelahan di mata istrinya. Dia juga tak mau terus melihat itu di sana. Maka dia menjawab, “Arasseo…”

“Aku akan tidur. Jangan menangis lagi. Aku akan tidur…” dia menenangkan Bee. Meski tangannya tak mampu bergerak, dia membiarkan Bee menuntun tubuhnya mendekat. Mereka melekat, namun Donghae tak mampu merasakannya.

Malam itu Donghae tak tahu kapan dia jatuh tertidur. Kapan akhirnya dia menutup mata. Kapan akhirnya kegelapan menggantikan kemilau lampu jalanan yang terpancar dari jendelanya.

Bee tersenyum bahagia. Hari ini semua orang berjalan keluar. Udaranya begitu bersih. Matahari bersinar ceria sampai semuanya memakai kacamata. Dulu, dia juga akan mengenakan kacamata, tapi hari ini dia merasa semuanya akan baik-baik saja tanpa kacamata.

Dia berjalan gembira di samping Donghae yang berpakaian serba hitam. Mukanya tertunduk menuju tempat itu. Dari kejauhan Bee melihat lokasi itu. Wanita jelek itu ternyata benar-benar mati. Hari ini dia akan dikuburkan. Ibunya memutuskan untuk memakamkannya secepatnya. Sepertinya itu pesan terakhir si meninggal.

Meski demikian Bee tak mampu menutupi keceriaannya. Hari ini begitu sempurna. Kenapa dia harus bersedih. Sudah lama dia tidak merasakan udara seringan ini. Matahari seceria ini. Meskipun suaminya tampak semuram badai, toh dia ada di sampingnya sekarang, secerah musim panas, jadi dia tak perlu khawatir.

Lubang itu telah siap. Peti telah mulai diturunkan. Sebentar saja pendeta telah mulai melakukan pidato terakhir. Ash to ash, dust to dust, katanya.

Bee memandangi peti itu ditutup tanah dengan pandangan berbinar. Ah, perasaannya benar-benar ringan. Dia mendongak menatap langit biru. Saat pandangannya turun, matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Sudah lama dia merindu sosok itu.

Tapi dimana dia sekarang? Bee yakin tadi dia berdiri di bawah pohon rindang di sana itu, tapi mengapa sekarang tak ada?

Bumi tiba-tiba memudar. Refleks Bee menggenggam tangan Donghae agar tidak terjatuh. Dia tidak lagi mencari sosok yang tadi mengusik rasa penasarannya. Kali ini dia menatap wajah Donghae lekat-lekat.

Suaminya itu masih sangat tampan. Meski kesedihan menggelayut di mukanya, berkas air mata mengotori pipinya, tapi dia tetap manusia tertampan di dunia. Manusia terbaik yang dikirimkan Tuhan untuknya. Kelembutannya, kesabarannya, cintanya, telah membuatnya merasa aman untuk menggenggam tangan yang saat ini sedang memenuhi telapaknya.

Angin berhembus, dan orang-orang mulai berlalu. Satu per satu wajah orang-orang berkelebat di hadapannya. Dia seperti berada di tengah-tengah parade. Yuri, mendampingi Siwon yang menangis. Ibunya, ah ya, tantu saja. Wanita setengah baya itu ibunya. “Eomma, berhentilah menangis. Nanti kau tidak cantik lagi…” kata Bee lembut.

Wanita setengah baya itu menghapus air matanya, lalu melangkah meninggalkan Donghae.

Donghae. Akhirnya hanya tinggal pria itu sendiri berdiri memandangi batu nisan. Leeteuk dan Eunhyuk mengatakan akan menunggu Donghae di mobil. Mereka menghormati keinginan sahabatnya itu untuk berduka lebih lama.

Tangan Bee masih menggenggam tangan Donghae erat. Lelaki itu tak mengatakan apapun. Air matanya tetap mengalir meskipun dia tak menginginkannya. Tak ada yang bisa dilakukannya. Masih bisa dirasanya ciuman Bee semalam. Pelukan yang memaksanya tidur. Semuanya.

Tadi malam istrinya itu akhirnya pulang dengan sosoknya yang paling cantik. Setelah sekian lama dia meniduri kasur mereka seorang diri, akhirnya dia bisa tidur di sana lagi bersama istrinya. Untuk terakhir kalinya.

Tadi malam dia bisa melihat lagi sosok yang membuatnya jatuh cinta setiap pagi ketika membuka mata, namun telah menghilang pagi ini.

Dia tidak rela, tapi dia tidak mau melihat istrinya itu terus menderita akibat penyakitnya. Dia nampak lega dan cantik tadi malam ketika mereka tidur berdampingan. Tidak nampak bahwa wanitanya itu pernah mengalami kanker ganas di leher rahimnya.

Dia cantik. Sampai akhir pun dia tetap cantik.

Air mata mengalir makin deras di pipi Donghae. “Saranghae,” bisik Donghae terisak. “Terima kasih sudah balas mencintaiku. Terima kasih telah hidup bersamaku. Terima kasih telah mengantarku tidur.”

Dia mengelap lendir dari hidungnya. Saat itulah tangan Bee terlepas.

Lalu sosok itu muncul lagi. Dekat sekali dengannya, “Lee-un-a…” Bee memanggil nama pria itu pelan.

“Kau sedih?” Lee-un memandang Bee penuh senyum.

Bee mengangguk. Lalu cepat-cepat menggeleng, membuat senyum Lee-un melebar. “Ayo, kutemani kau menunggunya.” Lee-un mengulurkan tangan pada Bee.

Senyum manis terkembang di mulut Bee. Dia beranjak dari sisi Donghae. Dia telah berani. Karena Lee-un akan menemaninya. Meski mungkin masih sekian lama lagi, tapi dia akan menunggu Donghae.

Mereka lalu melangkah bersama meninggalkan makam itu. Di belakangnya, Donghae menengadahkan muka menghadap matahari. Dengan air mata yang tak bisa ditahannya untuk mengalir, Donghae tersenyum pada langit.

“Istriku, saranghae,” bisiknya.

Pria itu lalu beranjak meninggalkan makam Bee ke arah kedua sahabatnya yang kemudian merengkuhnya dalam pelukan. Dia akan bertahan. Hidup dengan baik. Lalu suatu saat dia akan bertemu dengan istrinya lagi. Mereka akan tidur berpelukan lagi berdua. Saat itu terjadi, itu akan untuk selamanya.

KKEUT.

Iklan