Tag

, , , , , , , , ,

Episode: Spotted!

Author: Bee

Main Cast: Leeteuk, Beauty/Bee

Support Cast: Heechul, Sungmin, Kyuhyun, Siwon.

Genre: adult romance

PS: adult (+21) scene , tapi (semoga) bukan vulgar

Url: http://wp.me/p1rQNR-F

 

************************************

 

Bee POV

Aku harusnya berkonsentrasi pada tesisku. Waktuku hanya tinggal 9 bulan lagi. Maksimal. Kalo ga aku bakal kena DO. Kalo kena DO, aku ga bisa pulang karena ga punya cukup uang, karena uang beasiswaku langsung dicabut, dan ga mungkin juga  stay di Korea ini karena dalam 10 bulan ke depan visa studiku udah kadaluarsa. Masa aku harus balik lewat jalur deportasi? Ga dapet gelar, lagi.

Ciss, aku sebal pada diriku sendiri. Kenapa sih aku mesti hobi banget putus asa? Belum lagi melangkah, eh udah ngebayangin susahnya perjalanan. Akhirnya ketakutan sendiri buat melangkah.

Kupandangi kakiku yang menggantung. Di bawahnya ombak kecil berulang kali memukul pantai. Musim semi yang dingin, pikirku ketika angin laut berhembus. Oh laut!

Betapa cintanya aku pada ciptaan Tuhan yang satu ini. Dia menciptakan semuanya dalam keseimbangan yang sangat sempurna sampai menakutkan. Aku mencintai lautan, menyayanginya, mengasihaninya, sekaligus takut padanya. Setiap melihat laut aku teringat semuanya. Bagaimana makhluk paling kecil berjudul plankton melimpahi permukaannya, menjadi inti dari kehidupan makhluk-makhluk yang lebih besar; bagaimana menguras air matanya kejadian tsunami yang melanda tanah airku di tahun 2004; bagaimana dia selalu diperlakukan sebagai tempat sampah; bagaimana damainya laut ketika tenang seperti sore ini.

Sore ini matahari bersinar cerah. Meski dingin karena musim semi baru saja dimulai, tapi matahari sudah berani bersinar lebih lama. Di saat seperti ini, aku bersyukur ada lautan di dekatku. Di saat pikiranku benar-benar mentok memikirkan tesisku, aku bisa bernafas lega ketika berada di tepi laut seperti ini. Apalagi Pulau Jeju termasuk pulau yang keindahannya bisa dibanggakan oleh Korea Selatan, sehingga aku bisa menikmati semua potensinya tanpa harus bersusah payah mencari.

Aku memikirkan nasibku sebagai mahasiswa penerima beasiswa yang sudah melewatkan target waktunya. Tiga bulan lalu institutku hanya memberi tenggang waktu 1 tahun lebih lama. Itu pun karena aku sudah memohon-mohon menangis darah dengan alasan penelitianku tak berjalan mulus akibat perubahan iklim yang memusnahkan 90% objek penelitianku. Dengan kata lain, aku sudah mengeluarkan kartu terakhirku agar tidak di DO, dan kini aku masih harus mengulang satu rangkaian penelitian lagi yang tidak yakin bisa kuselesaikan dalam waktu kurang dari 6 bulan.

Gila! Gilaaaa!

Aku bangkit dari dudukku dan melangkah menyusuri dinding pemecah ombak. Di ujungnya terdapat tangga yang mengarah ke pantai sempit yang terpencil. Tidak banyak orang yang tahu keberadaan pantai itu. Paling-paling hanya kami, mahasiswa dan peneliti Institut Kelautan Jeju dan masyarakat lokal. Itu pun jarang ada yang mau mengunjungi pantai sempit tersebut karena lokasinya sangat di ujung dan seringkali tertutupi oleh air laut.

Aku berharap dengan surutnya air laut seperti sekarang ini aku bisa duduk di sana, membiarkan tubuhku dibekukan oleh angin laut. Membiarkan otakku didinginkan sesaat.

Ternyata harapanku terkabul. Pantai itu terbuka. Perasaanku membuncah dan aku segera melepaskan stres-ku dengan berteriak sekeras-kerasnya sambil menuruni tangga.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!!!!!”

Cipak, cipak, cipak, aku berlari sampai menyentuh air. Dingin sekali, tapi aku merasa aku membutuhkannya. Kutarik nafas, lalu aku berteriak lagi, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!”

iPodku mengalunkan suara Sung Si Kyung. Lembut dan nadanya sangat sesuai dengan keadaan hatiku. Meskipun aku tidak pernah hapal judul lagu, tapi aku hapal lagunya.

“Suuuuuuuuuuuung Siiiiiiiiiiiiiii Kyuuuuuuuuuuuuuuung!!!!”

Teriakku asal memanggil nama penyanyi yang sering sekali menemaniku di lab itu.

“Dashiiii~ mimeuneul bomyeonseooooo”

“Otteonsarameun malmago..”

“Ddeo areumdaweojeo..”

Aku ikut menyanyikan lagu itu asal-asalan di bagian tinggi. Kusadari air mataku meleleh bersamaan dengan itu.

“Hu hu hu… Maafin Bee, Mah. Maafin Bee karena lemah, karena bodoh, karena ga selese-selese ngerjain tesisnya… Huhuhu…” tangisku.

Aku berjongkok dan menangis dengan wajah disembunyikan di lipatan tangan.

Tiba-tiba ombak yang lebih besar datang menyiramku. Membuat tubuh bagian bawahku hampir semuanya basah. Tangisku otomatis terhenti. Tapi aku makin merasa terpuruk. Bahkan laut ga sudi ngedengerin keluhku.

Aku bangun dan dengan lunglai berjalan menuju tangga. Aku duduk di sana. Menguasai beberapa anak tangga sekaligus. Bertumpu pada sikuku, aku masih menikmati suara Sung Si Kyung ditemani sinar matahari.

“Ya! Bada! Neon neomu areumdawo! Areo?” seruku sambil menunjuk lautan. “Kamu cantik sekali, laut…” desahku dilanjutkan dengan teriakan, “SARANGHE, BADA-YA!”

Tiba-tiba lagu berubah memainkan Beautiful yang dinyanyikan oleh Donghae Super Junior.

Terhipnotis oleh sinar matahari yang menerobos awan, aku melompat lagi ke pasir. Lagi-lagi dengan asal-asalan mengikuti lagu itu.

“You like a queen and beautiful, I just can’t be without you girl”
“Cause you, you are, so beautiful…”
“Nal sumsuiga haneungo ne ibseul saranghandanmal oh, oh”
“Saranghe, saranghe.”
“Kamsahe, kamsahe”

Aku menari-nari tak karuan di atas pasir. Terkadang lari menuju air, lalu tertawa sendiri ketika ombak balik mengejar. Kayaknya beneran aku udah gila deh. Tapi ah, sebodo amat. Ga ada yang ngeliat inih.

Ga terasa lagu Donghae selesai, digantikan oleh Stop Walking By-nya Suju KRY.

Aku pun terdiam di tempat, mulai menyanyikan lagu itu dari awal.

keoreumeol ddo meomchweoseojwo, honjaseo du nuneol garijwo,
nae dwi-e keudaeka, kamssajudeon keuddae cheoreom
keudaeka bonaejweotnayo, parami mae manjijwo
molrae heulrin nunmul ape hokshi, na jujeo-anjabeorilkka

nan chu-eokgwa neul mannajwo, kin shigando mireonaejin mothajwo
nal deo kajyeoyajwo wae namkyeodweoyo, keudae mokshinde

Aku merentangkan kedua tangan lebar-lebar. Kukeluarkan semua nafasku untuk bernyanyi.

i sarang mideoyahaeyo, idaero kkeutnael sun eobtjwo
deo meolri sumeodo, kkok naega chajanaejulkeojwo
ajik nae shimjangeun, keudael hyanghae ddwinikka

Tanpa sadar air mataku ikut mengalir bersama nyanyianku.

Aku ingin pulang. Aku rindu Indonesia. Aku ingin ketemu Mamah, ketemu Papah. Pengin diomelin setiap hari, disuruh-suruh. Ga kaya di sini, mendekam dalam kamar, tertimbun dalam lab. Aku jenuh.

Bersamaan dengan nada yang menyayat hati, aku memeras kelenjar air mataku. Membiarkan semua persediaan air mata jatuh. Suaraku bergetar. Aku dipenuhi oleh emosiku sendiri sampai tidak sadar ada suara kamera dijepret.

 

Leeteuk POV

Aku beruntung menemukan tempat ini.  Tempat yang sempurna untuk mendapatkan ketenangan. Kuarahkan kameraku ke mana saja, mengambil gambar pemandangan dari setiap angle yang mungkin.

Meskipun pulau wisata, ternyata ada juga tempat tersembunyi seperti ini di Pulau Jeju. Sore ini indah sekali, aku ingin mengabadikannya tanpa harus dikerubuti fans.

Baru berpikir begitu, tiba-tiba aku mendengar teriakan dari atas tangga tempat aku turun tadi. Aduh, jangan-jangan aku sudah ketahuan nih. Padahal kan aku udah hati-hati banget keluarnya. Bahkan aku ga pamit sama member yang lain.

Aku buru-buru toleh kanan toleh kiri, mencari tempat yang mungkin kujadikan tempat sembunyi. Yes, aku menemukannya.

Aku mendongak dan melihat cewek itu turun dengan cepat sekali. Aku sampai mengira dia akan menggelinding jatuh dari tangga.

Eh, eh, tapi kok dia ga berenti? Eh, eh, kok dia terus lari ke laut? Jangan-jangan… jangan-jangan dia mau bunuh diri. Aku panik.

Tepat saat aku hendak keluar dari persembunyian untuk mencegahnya bunuh diri, tiba-tiba cewek itu berhenti. Sejenak kemudian dia tiba-tiba berteriak lagi sambil berputar. Buru-buru aku menyembunyikan kepalaku yang nongol dari balik gundukan pasir. Aman. Sepertinya cewek itu tidak melihatku.

Setelah teriakannya terhenti, badan cewek itu bergoyang-goyang seperti sedang mengikuti alunan musik. Ah, ternyata dia mengenakan headset. Rupanya benar dia sedang mendengarkan musik.

“Suuuuuuuuuuuung Siiiiiiiiiiiiiii Kyuuuuuuuuuuuuuuung!!!!”

Buset dah! Kenceng juga teriakan cewek itu. Lalu ku dengar dia menyanyikan lagu Sung Si Kyung. Aku tidak hapal judulnya, tapi kurasa cewek itu juga asal menyanyi saja. Apa dia fans beratnya Sung Si Kyung ya?

Tangan cewek itu terentang dengan muka tengadah menatap langit. Dia sudah tidak lagi menyanyi, tapi kini meracau dalam bahasa yang tidak kuketahui. Apa dia orang asing?

Aku mengamati posenya. Wah, eksotis nih. Rambutnya yang tidak terlalu panjang jatuh bebas karena kepalanya tengadah seperti itu. Sementara sinar matahari bersinar dari tubuh depannya. Rok panjangnya melambai-lambai ditiup angin. Aku refleks menyiapkan kameraku.

Jepret! Yes, aku dapet gambar siluet yang bagus!

Eh, lho cewek itu kok tiba-tiba jongkok? Tubuhnya sepertinya gemetar. Aku harus menyipitkan mata untuk memastikan dari tempatku bersembunyi ini. Apa dia menangis?

Aduh, jangan-jangan dia orang gila.

Tapi masa orang gila hapal lagu Sung Si Kyung? Atau jangan-jangan cewek ini gila karena ngefans ga kesampean sama Sung Si Kyung ssi? Wah, gawat nih. Kalau dia terus di sini sampe malem, aku ga bisa pulang dong. Aku mulai kepikiran yang enggak-enggak.

Angin laut yang berhembus ke arahku membawa suaranya ke telingaku. Ternyata dia memang sedang terisak. Dia sedang menangis. Ah, melihat penampilannya sih dia bukan orang gila. Walau agak mencurigakan sih…

Tiba-tiba aku melihatnya. Ombak itu lebih besar dari yang lain, tapi cewek itu ga menyadarinya. Aku refleks keluar dari persembunyianku hendak memperingatkannya, tapi terlambat. Dia sudah diguyur oleh ombak yang baru datang itu.

Dia mendongak cepat, tapi aku ga mendengar teriakan kaget sama sekali dari arahnya. Dia bangun dan mengamati roknya yang basah kuyup. Hii, pasti dingin banget di musim begini. Tapi dia tidak berekspresi sama sekali. Dia hanya berjalan menunduk menuju tangga lalu duduk di sana. Dia duduk menyandar pada kedua lengannya yang ditekuk di anak tangga yang lebih tinggi. Mukanya menghadap sinar matahari.

Aku mengangkat kameraku, dan menge-zoom wajahnya. Sekarang aku yakin 90% dia memang orang asing. Kulit wajahnya berwarna keemasan ditimpa sinar matahari sore.

Aku terpaku pada posisiku. Cewek itu bukan wanita tercantik yang pernah kulihat. Tapi wajahnya mampu menghipnotis. Eksotis sekali. Mungkin dia berasal dari daratan Amerika Selatan atau Yunani. Wajahnya seperti orang latin.

Mendadak dia berseru kepada laut, “Laut! Kamu itu cantik banget. Kamu tahu itu ga?”

“AKU MENCINTAIMU, LAUT!” teriak cewek itu sekeras-kerasnya. Aku kaget banget. Sumpah.

Dan ternyata kekagetanku ga berhenti sampe di situ. Cewek itu tiba-tiba berdiri dan mulai menari. Mulutnya menyanyikan lagu Beautiful milik dongsaengku, Donghae. Ah! Apa cewek ini fansnya Donghae ya? Terus karena gagal melihat Donghae dari dekat, dia melampiaskannya ke sini dan berteriak pada laut. Bagaimana pun juga Donghae kan laut juga…

Dia menari-nari asal banget. Roknya makin beriak-riak karena dia bergerak sembarangan. Rambutnya terkibas-kibas tak karuan. Beberapa kali aku menangkap ekspresinya yang diterangi sinar matahari, dan aku berhasil mendapatkan gambarnya.

Lalu lagi-lagi cewek itu mengejutkanku. Dia berhenti menari lalu berdiri tegak menghadap laut.

Dan aku pun mendengarnya. Suara yang dikeluarkan cewek itu, menyanyikan lagu Suju KRY, Stop Walking By. Suaranya bukan tipe yang lembut dan halus, tapi perasaan yang diperdengarkannya sangat menyayat hati. Sepertinya dia sedang menyatakan patah hatinya pada laut. Mendengarnya bernyanyi, aku seperti bisa mendengarkan orkestra mengiringi suaranya.

Lagi-lagi aku melihat air matanya menetes. Pelan aku mendekat padanya dan mulai mengambil gambarnya lebih dekat. Matanya terpejam membuatnya tidak menyadari keberadaanku.

honjaseo mianhaemayo apado nan haengbokhanikka
hangsang kaseum ane keudaeisseo sanikka

Tanpa kusadari dia sudah menyanyikan bait terakhir.

Begitu aku tersadar dari pesonanya, dia telah berhenti bernyanyi, meski tetap memejamkan mata. Tangannya terangkat menghapus air mata yang menetes dari sudut matanya. Lalu perlahan-lahan mata itu terbuka.

Aku bisa merasa bahwa dia segera sadar ada orang di dekatnya. Dan aku sudah bersiap melihat ekspresinya saat melihatku. Tapi penantianku itu tak pernah terwujud. Dia hanya memandang lurus ke depan, tak menoleh ke arahku sama sekali.

“Ah, ada orang,” desahnya.

Aku menunggu.

Tidak ada yang terjadi.

Apa? Sudah?! ‘Ah, ada orang,’ begitu aja? Dia bahkan ga memperlihatkan reaksi malu! Wah, orang gila beneran nih kayaknya.

Dia kemudian menganggukkan kepalanya tanpa melihatku dan berjalan ke arah tangga.

Kupikir dia akan pergi. Ternyata dia kembali duduk di tangga.

Aku jadi merasa aku telah memasuki wilayah yang salah. Apa tempat ini miliknya? Sepertinya dia sudah sangat terbiasa dengan daerah ini.

Aku lalu mengambil keputusan untuk meninggalkannya. “Permisi,” kataku ketika melewatinya di tangga.

Dia diam saja. Bahkan sampai di atas pun, ketika aku menoleh lagi ke bawah, dia masih di posisinya dan terus-menerus menatap laut. Wah, sepertinya memang orang gila, akalku mengatakan, meski perasaanku membantahnya.

 

Bee POV

Klaas ada di sini? Di Pulau Jeju? Aku mengayuh sepedaku semakin cepat ke arah Hotel Beomyang. Aku baru mengecek e-mailku dan mendapat berita dari Christine, teman proyekku dari Jerman bahwa dia dan Klaas akan datang ke Jeju untuk mengikuti konverensi internasional mengenai ekologi kelautan. Mereka akan menginap di Hotel Beomyang.

Aku yang baru mengecek e-mail lagi setelah 2 minggu segera mengarah ke sana sebab dikatakan dalam e-mailnya bahwa besok mereka sudah akan kembali ke Jerman. Oh aku rindu sekali teman-temanku itu. Terutama Klaas. Kami dulu sempat berpacaran sebelum akhirnya putus dengan sendirinya akibat jarak. Klaas pernah mencoba menghubungiku di Indonesia, tapi saat itu aku sudah pindah ke Korea Selatan ini.

Sial, aku melihat Hotel Beomyang dipenuhi orang. Apa sedang ada demonstrasi? Aduh, kenapa mesti hari ini sih?! Palingan demo korupsi seperti yang sedang marak akhir-akhir ini. Heh, politik melulu yang dipikirin! Pikirin tuh alam yang mulai berubah dimana-mana! Aku berpikir sewot.

Aku kebingungan memarkir sepedaku. Akhirnya aku putuskan memarkirnya di seberang jalan saja. Lalu aku bergegas masuk ke dalam hotel. Aku perhatikan para pendemo itu cewek-cewek semua dan masih remaja. Wah, remaja sekarang udah pada sadar politik yah? Hebat.

Di pintu masuk aku dicegat oleh pihak keamanan hotel yang menanyai tujuanku ke hotel ini.

Kubenarkan letak ranselku, dan kukatakan bahwa aku mau menemui temanku yang adalah tamu hotel ini. Dia meminta identitasku, lalu kutunjukkan kartu mahasiswaku. Kemudian memintaku agar memberinya izin memeriksa tasnya. Buset. Sebenernya ada apa sih di sini? Apa konferensi-nya diikuti oleh penggede banyak negara ya? Kok kemanannya seketat ini?

Akhirnya aku diizinkan masuk. Aku bertanya pada resepsionis, dan resepsionis menghubungi kamar Klaas. Setelah berhasil menghubunginya, dia kemudian mempersilahkan aku menunggu di lobi.

Aku meninggalkan meja resepsionis sambil menggembungkan pipi dan duduk menunggu di lobi yang dipenuhi orang. Merasa heran melihat banyak sekali remaja nongkrong di hotel ini.

 

Leeteuk POV

“Hyung, ini bagus sekali,” kata Sungmin. “Dimana kau mendapatkan panorama seperti ini? Aku kemarin juga hunting foto, tapi aku ga liat tempat kaya gini,” dia mengerutkan kening.

“Ada deh, pokoknya. Tempatnya agak jauh dari hotel.” Aku membenarkan tatanan rambutku.

Saat ini kami sedang menunggu di lobi hotel untuk melakukan pemotretan. Entah apa yang dilakukan kru, tapi kami sudah menunggu sejak 1 jam yang lalu. Selama itu makin banyak ELF yang datang. Akhirnya karena bosan, aku buka iPad-ku dan memamerkan hasil hunting fotoku pada member yang lain.

Sementara Sungmin memperhatikan gambar-gambarku, mataku berkeliling, siap memberikan senyum dan pose yang bagus untuk para ELF yang sudah rela menunggui kami berjam-jam sejak tadi pagi saat kami bahkan belum bangun.

Tiba-tiba mataku menangkap siluet yang kukenal. Cewek itu duduk di sebelah jendela, sedang membenarkan tali sepatu kets-nya. Wajahnya tertutup, tapi dari gelombang rambutnya aku yakin itu dia, si cewek gila kemarin. Hari ini dia tampil dengan celana jeans dan t-shirt feminin. Jaketnya tergeletak di pangkuan, di atas tas ranselnya.

Oh, jadi ternyata dia salah satu ELF toh. Tapi kenapa dia tidak mengenalku kemarin sore, ya?

Sepatu cewek itu akhirnya beres. Dia segera menyibakkan rambutnya dan duduk dengan benar. Waw, ternyata wajahnya memang tidak jelek.

Sedang berpikir begitu tiba-tiba aku mendengar suara jepretan kamera.

Sungmin berdiri di sebelahku. “Hyung, aku dapat objek yang bagus sekali,” serunya.

Dia lalu memperlihatkan hasil jepretannya, yaitu gambar cewek gila itu sedang menyibakkan rambutnya disinari cahaya matahari. Hasilnya bagus sekali. Aku memujinya.

“Dia cantik sekali ya, Hyung. Apa menurutmu dia ELF? Tapi kurasa dia bukan orang Korea.”

Memang bukan, jawabku dalam hati.

Tiba-tiba objek kami itu berdiri. Mukanya tampak berbinar dan untuk pertama kalinya aku melihatnya tersenyum. Ya, cewek itu tersenyum. Kali ini aku tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali, ‘dia seorang bidadari’.

Aku mencari sumber senyumnya dan menemukan seorang cewek bule berbadan tinggi langsing berjalan ke arahnya cepat, memanggilnya keras, “Bee!”. Lalu mereka berpelukan erat sekali.

Ah, jadi bukan ELF toh. Dan namanya Bee.

“Bukan ELF, Hyung.” Di sebelahku Sungmin menyuarakan pikiranku. Aku tidak menanggapi.

Cewek itu melihat ke arah lain dan tiba-tiba berlari ke arah yang dilihatnya. Aku terus mengikuti gerakannya dan terkejut. Dia meloncat ke arah seorang pria bule tinggi yang tampangnya mengingatkan aku pada Harry Potter.

Bee itu paling hanya setinggi dada si cowok bule, makanya ketika mereka berpelukan, dia terangkat dari lantai dan oleh si cowok dia diputar-putar. Begitu mendarat lagi di lantai, mereka berciuman, membuat jantungku meloncat turun langsung ke usus besar. Sialan! Aku membuang muka dari pemandangan itu. Ada rasa tidak terima menelusup ke dalam hati. Sekejap saja perasaan itu berubah menjadi kejengkelan yang ga masuk akal.

“Waow!” aku dengar Kyuhyun berkomentar. Rupanya bukan hanya aku dan Sungmin yang memperhatikan Bee, tapi juga Kyuhyun, Siwon dan Heechul. Bahkan Heechul pun terdiam memperhatikan cewek itu. Biasanya dia hanya memperhatikan sekejap lalu sudah, tapi kali ini berbeda. Mungkin karena adegan ciumannya.

Entah dari mana kemudian muncul seorang pria latin berbadan pendek. Bahkan lebih pendek dari Bee. Dia maju dan langsung mencium bibir Bee sekilas dan memeluknya erat sekali. Raut muka Bee saat ini benar-benar berbeda dari yang kulihat kemarin. Tidak ada indikasi sama sekali bahwa dia sudah bertingkah ga waras sehari sebelumnya.

Mereka lalu berjalan ke arah pintu keluar yang berada di samping. Ketika melewati kami, tanpa ada tanda-tanda mataku bertemu dengan Bee. Kami bertatapan hanya selama beberapa detik, tapi aku yakin dia menyadari keberadaanku sepenuhnya. Matanya yang menatapku, tanpa senyum sama sekali. Tatapannya kuat dan terfokus.

 

Bee POV

Aku ga nyangka aku bahkan bisa ketemu Jofre di sini. Aku pikir aku hanya akan bertemu Christine dan Klaas. Ini reuni yang sangat menyenangkan. Kami dulu sempat bersama-sama selama satu tahun di stasiun Atlantik Utara, mengumpulkan data beberapa spesies kunci dari perairan Eropa Utara. Kami bercerita mengenang semua kejadian saat itu.

Sementara tentang Klaas dan aku, aku udah memastikannya sekarang. Bahwa di antara kami tidak mungkin akan ada apa-apa lagi. Dia adalah teman baikku sebagaimana aku menjadi teman baiknya sekarang ini. Yah, aku sudah menduganya, dan tidak ada penyesalan sama sekali dalam hatiku.

Ketika kami mulai bicara mengenai konferensi yang sedang berjalan, barulah aku merasa kacau. Aku merasa sepertinya mereka semua sudah berhasil dan hanya tinggal aku sendiri yang belum mencapai apa-apa. Aku merasa semakin terpuruk.

Dalam keterpurukanku itu, aku melihatnya lagi. Leeteuk dari grup Super Junior. Rupanya mereka alasan para remaja berkumpul di hotel ini. Tadi saat berjalan menuju restoran ini, aku melewati kelompoknya dan mata kami sempat bertemu beberapa detik. Tatapannya sangat tegas dan menghujam. Dia seperti menyipan kemarahan yang aku tidak tahu ditujukan pada siapa. Sekarang ini mereka duduk satu meja jauhnya dari tempatku menyantap makan siang dengan teman-temanku. Sepertinya mereka juga hendak makan siang.

Aku berusaha mengabaikan perasaan bahwa dia sedang mengamatiku. Sungguh konyol. Apa alasannya mengamatiku? Jadi aku berusaha kembali pada topik pembicaraan kami.

Tapi aku tidak bisa. Entah kenapa fokusku tidak pada teman-temanku. Padahal aku sungguh merindukan mereka.

Aku merasakan hidungku bermasalah lagi, jadi aku pamit ke toilet sebentar. Gara-gara kemarin main air di laut, hari ini sepertinya aku akan terserang pilek. Mataku sudah berat, tenggorokanku kering dan hidungku gatal dan pegal sekaligus. Aku membersihkan hidungku di toilet wanita dan setelah yakin tidak ada yang tersisa aku segera keluar.

Di pintu toliet aku merasakannya lagi, hidungku gatal sekali dan aku akan bersin. Ternyata bersinku datang lebih cepat. Aku belum sempat menutup tangan dan tiba-tiba saja aku sudah bersin, mengeluarkan cairan bening dari hidungku.

Sialnya, cairan itu menempel di dada seseorang. Aku ternganga. “Maafkan aku. Sungguh, aku tidak bermaksud…” kutengadahkan mataku untuk melihat orang itu dan kata-kataku terhapus. Leeteuk.

Tanpa berkata lagi aku ambil tissue pengering dari dalam toilet wanita dan segera membersihkan lendir yang menempel di kemeja Leeteuk.

 

Leeteuk POV

Aku memperhatikan Bee membersihkan kemejaku dengan hati-hati. Entah kenapa di depannya saat ini aku tidak ingin tersenyum. Aku tidak tahu dari mana datangnya, tapi ada perasaan marah yang terpendam dalam hatiku sejak melihatnya berciuman dengan si Harry Potter tinggi itu. Apalagi ketika melihat mereka ternyata makan siang bersama di sini.

“Sepertinya sudah lumayan bersih,” dia mendongak menatapku. Ah, dia kecil sekali, pantas saja si bule tadi dengan mudah memeluk dan menciumnya.

“Aku bisa mencucinya sampai bersih kalau kau mau.” Dia merogoh tas ranselnya sambil menghisap hidungnya. Sepertinya dia kena pilek. Terang saja. Kemarin kan dia mandi di laut dalam cuaca yang bisa dibilang masih sangat dingin.

Dia kemudian memberiku secarik kertas yg sudah ditulisinya sesuatu. “Ini no. telepon dan alamatku. Kalau kamu mau aku membersihkan bajumu, kabari saja aku, nanti aku bersihkan bajumu.”

Aku masih tidak menjawabnya. Dia pun menjadi salah tingkah aku pandangi. “Kalau begitu, aku per…”

“Apakah kau pikir laut itu cantik?” tanyaku memutus ucapannya yang hendak pamit dari hadapanku.

“Ne?” tanyanya tak yakin dengan pertanyaanku.

Aku menatapnya. Tidak yakin apakah aku mau mengulangi pertanyaanku. “Kamu, suka laut?” tanyaku.

Dia tesenyum formal, “Ya, suka sekali.”

“Pantes…”

Dia memperbaiki sikap berdirinya. “Maksudnya?” tanyanya waspada.

Aku membuka mulutku hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak menemukan kata-kata yang tepat.

“Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku permisi dulu,” katanya berusaha melewatiku dari samping.

Andweh. Aku belum selesai dengannya. Aku tidak mau dia pergi.

Mungkin aku sedang kerasukan, karena satu tanganku tiba-tiba sudah mencengkeram lengannya. Sementara yang lainnya memegangi lehernya. Dengan akurat bibirku menutup bibirnya. Aku tidak sadar kapan tepatnya aku bergerak menciumnya, namun ketika bibir kami bertemu, aku sadar sesadar-sadarnya bagaimana rasanya.

Seperti telah kuperkirakan sebelumnya, dia terkejut, lalu ketika aku memperdalam ciumanku, keterkejutannya menghilang. Mata kami bertemu sementara bibirku terus menjelajahi bibirnya. Atas dan bawah, sepertinya aku tidak puas-puas.

Tak satu pun dari kami mau memejamkan mata. Gabungan antara rasa bibir dan tatapan matanya telah membuatku lupa daratan. Aku tak ingat bahwa dia cewek gila (mungkin), aku lupa bahwa pacarnya yang bule itu sedang menunggu di depan. Aku hanya tahu bahwa akhirnya kami bertemu saat ini. Pikiran itu membuatku menekan kepalanya lebih dekat lagi.

“Hyung!”

 

Bee POV

Dia melepaskan ciumannya dari bibirku, tapi matanya terus menatapku tajam. Aku ga ngeliat lagi kemarahan dalam mata itu, tapi tatapan itu melelehkan sesuatu dalam tubuhku. Takut jatuh, aku menegakkan tubuhku.

Waktu dia mengalihkan pandangannya dari mataku, aku tersengal sedikit. Tapi lalu bibirku terasa panas, sebab pandangannya menyatakan bahwa dia masih belum puas.

Anehnya aku ga merasa terhina. Dia menciumku mendadak dan tanpa izin. Dia menguasai tubuhku. Dia bahkan melupakan perkenalan. Tapi aku ga bisa merasakan perasaan selain menginginkan bibirnya lagi. Ciumannya menuntut dan panas. Menghidupkan sesuatu dalam dadaku. Kami sama-sama tidak mau mengalah ketika berciuman. Dan aku ketagihan.

Dia terlihat kaget waktu salah satu anggotanya mendatangi dan menggoncang tubuhnya. Gerakannya yang seperti ingin menerkamku lagi terhenti secara paksa karena kedatangan dongsaengnya itu.

“Hyung! Kalian sedang apa?!” dongsaengnya itu berbisik keras. “Kalau Hyung-nim tahu…”

“Diamlah,” katanya singkat menatap si dongsaeng. Aku ikut melirik pada dongsaengnya itu. kalau tidak salah dia adalah Heechul.

“Ternyata Anda kurang ajar,” kataku beralih lagi pada Leeteuk.

“Lalu?” tantangnya. “Kamu mau apa? Menamparku?”

Meskipun aku merasa kesal dengan sikap kurang ajarnya, tapi keinginanku dicium lagi olehnya meredam kekesalanku yang memang tidak banyak itu. Maka aku mengangkat tanganku dan menepuk pipinya pelan. “Ya. Aku tidak murahan. Kamu akan membayarnya.”

Setelah itu aku segera meninggalkannya. Heechul memberi jalan lewat padaku.

Aku yakin sekali bukan hanya aku yang menginginkan ciuman itu terulang lagi. Kami pasti akan bertemu lagi, dan saat itu terjadi kami akan tergulung dalam badai yang kami ciptakan sendiri.

 

Leeteuk POV

“Hyung!” Heechul berseru mengagetkanku.

“Kamu mau turun ga?!” tanyanya kesal padaku. Lalu dia melanjutkan, “Dengar Hyung,” dia menunggu yang lain keluar dari mobil. “Apa kamu udah gila? Kamu masih mengingat cewek itu? Ini udah dua bulan, Hyung! Dan lagi kamu sendiri yang bilang bahwa kamu ga kenal dia!”

“Diamlah,” kutatap Heechul dengan kesal. Suasana hatiku sudah cukup buruk menyadari kenyataan bahwa rasa cewek itu masih terus menghantuiku setiap malam. Setiap pagi aku selalu terbangun dengan perasaan bahagia karena bisa bertemu dengannya tadi malam sekaligus nyeri karena merindukannya.

“Sadarlah Hyung! Yang lain sudah mulai bertanya-tanya kenapa Hyung begini. Kamu keseringan melamun.”

Melihat aku tidak bereaksi, Heechul melanjutkan, “Lagipula dia mungkin bukan wanita baik-baik…”

Dengan marah aku menatapnya tajam.

Dia sedikit surut, tapi tetap melanjutkan, “Aku serius, Hyung! Kamu menciumnya sampai seperti itu, tapi dia ga bereaksi. Cuma menepuk pipimu pelan. Lalu masih ada si bule…”

Dia berhenti karena aku tiba-tiba mencengkeram kerah bajunya. “Kalau kau lanjutkan, kau akan mati, Kim Heechul!” ancamku.

Heechul tampak marah, tetapi dia menahan diri. Kulepaskan cengkeramanku dengan kasar. “Terserah kau saja lah!” desisnya marah lalu meninggalkan aku sendirian di dalam mobil.

Aku mengikutinya turun dari mobil. Di depan pintu klub tampak Kyuhyun menunggu kami. “Hyung, cepat!”

Anak itu melihat muka Heechul yang keruh, lalu melihat wajahku juga. Dia segera tahu ada yang tidak beres di antara kami berdua. Dia menanyakan pada Heechul lalu padaku apa yang terjadi, tapi tak satupun di antara kami yang menjawab. Kami masuk ke dalam klub dengan diam.

Perayaan selesainya proyek CF kami malam ini terasa agak mengganjal untukku gara-gara omongan Heechul. Tapi selain kami berdua dan Kyuhyun, kurasa yang lain tak ada yang menyadari adanya masalah. Aku pun berusaha untuk tidak memikirkan hal itu dan cewek itu.

Seiring jalannya pesta, kemarahan antara aku dan Heechul sudah agak mereda. Kurasa alkohol cukup membantu. Aku memang minum agak banyak malam ini. Efek sampingnya adalah aku sekarang aku harus bolak-balik ke toilet. Ini sudah yang keempat kalinya aku ke toilet.

Ketika sedang berjalan kembali ke tempat yang lainnya berkumpul, aku terpaku. Di depanku, berdiri Bee, si cewek sialan yang terus menghantuiku mimipiku selama kami tidak bertemu.

Dia tampak sama terkejutnya dengan aku. “Ngapain kamu di sini?” tanyaku.

Cepat sekali dia pulih dari keterkejutan. “Ada urusan,” jawabnya santai.

Seseorang datang dari belakangku mendorongku hingga menyenggolnya. Seketika itu juga semua keinginanku seperti meledak. Aku menunduk, merasa kalah. “Aku sudah membayarnya,” bisikku pelan. “Ikutlah denganku malam ini,” lanjutku lagi sambil menatap matanya memohon.

 

Bee POV

Aku haus. Kubuka mataku dan mencoba mengingat aku lagi ada dimana. Dengkuran halus di belakangku mengingatkan dimana aku berada saat ini. Kulepas pelukan tangannya dari pinggangku, dan kuraih sepotong pakaian dari balik selimut. Aku menemukan kemeja Leeteuk. Kupakai saja. Ternyata cukup panjang untuk menutupi tubuh bagian bawahku.

Dinginnya lantai menambah kesadaranku. Tapi aku tetap berjalan tanpa alas kaki. Dalam keremangan tempat ini aku berusaha mencari dapur. Begitu menemukannya aku segera mencari gelas dan mengisinya dengan air keran. Aku minum sambil berjalan ke kamar tempat Leeteuk masih tidur. Begitu kubuka pintu kamar, aku melihatnya sedang meneliti lantai. Selimut yang tadi dipakainya telah melorot memperlihatkan tubuh atasnya sampai ke pinggang. Dia tampak kacau.

Menyadari ada yang mengamatinya, Leeteuk menoleh. Ketika matanya menangkap gelas di genggaman tanganku, dia tersenyum. Senyum pertama yang aku lihat langsung di wajahnya sejak pertemuan pertama kami. Entah kenapa aku merasa nelangsa melihat senyumnya.

“Kupikir kamu sudah pergi,” katanya pelan sambil bangkit dari tempat tidur menghampiriku. Tidak peduli meskipun tubuhnya telanjang bulat.

Aku berusaha keras menenangkan hatiku melihatnya. “Aku haus,” jawabku mengangkat bahu.

Apa yang kami lalui tadi begitu indah. Di klub tadi permintaan untukku ikut dengannya telah membobol semua pertahanan yang selalu kupupuk dua bulan belakangan.  Kami berhasil menyusup keluar dari klub dan menyewa taksi. Dia tidak mengatakan padaku kemana kami akan pergi, dan aku juga tidak bertanya. Sepanjang jalan kami sibuk berciuman. Rasa bibirnya begitu kurindukan. Untuk saat itu dialah yang paling kubutuhkan, keberadaannya adalah yang terpenting. Kalau supir taksi kami menyadari siapa penumpangnya, kurasa habislah karirnya.

Akhirnya kami sampai di tempat yang ternyata adalah asramanya. Dia meracuni pikiranku hingga aku tidak sanggup berpikir lagi. Di elevator, tangannya terus menggodaku, bibirnya terus mencumbuku, menggelapkan kesadaranku. Untung saja kami tidak bertemu seorang pun. Kami tersengal-sengal memasuki rumah itu.

Sesaat dia melepaskan ciumannya, mengecek semua kamar, lalu akhirnya menarikku memasuki salah satu kamar. Aku tidak tahu yang mana, aku hanya sanggup mengikutinya. Seluruh inderaku telah tumpul. Aku melahap tubuhnya dengan rakus begitu dia menarikku lagi. Kami terjatuh di lantai saat sedang berusaha merobek pakaian masing-masing. Kami menggila.

Ada satu momen dimana kami berhenti menyantap satu sama lain. Yaitu ketika kami saling memperhatikan tubuh masing-masing dalam kepolosan. Dalam siraman cahaya lampu luar yang pucat, tubuhnya sangat indah. Sekali lagi aku meleleh di hadapannya. Kami perlahan saling mendekat dan akhirnya melebur menjadi satu.

Saat ini dia berdiri memelukku. Tubuh kami menempel hanya dibatasi kemejanya yang sedang kupakai. “Boleh aku minta minum?” tanyanya.

Kusodorkan gelasku ke mulutnya, lalu dia minum. Seumur hidup aku baru tahu bahwa ada orang yang bisa tampak seksi sekali ketika minum air putih.

Tanganku agak bergetar memikirkan hal itu sehingga menumpahkan sedikit air di dagunya. Tanpa berpikir aku mengecap tetesan air di dagunya.

Kemudian aku merasa tangannya menjauhkan gelas dari tubuh kami dan bibirnya menjarah bibirku lagi. Aku pasrah. Kubuka bibirku yang langsung diserbu oleh lidahnya. Aku tidak bisa tinggal diam, maka aku pun membalas ciumannya sama ganas.

Dia berjalan mundur dan terduduk ketika menabrak kasur. Satu gerakan darinya melucuti satu-satunya pemisah di antara kami. Aku tidak ingat dimana kutaruh gelas yang tadi baru sempat kuminum sedikit isinya, tapi yang jelas aku sudah tak memegangnya lagi sebab kini tanganku sedang sibuk menjelajahi dadanya.

Sengal nafas kami memenuhi kamar itu. Bibirnya sedang menjelajahi leherku, sementara tangannya membelai seluruh tubuhku.

“Aku tidak mau ini hanya mimpi,” desahnya tiba-tiba.

Gerakan kami terhenti sesaat. Karena aku memandangnya penuh rasa tanya.

Dia kemudian mengecup pangkal leherku, “Aku tidak mau merasa nyeri besok pagi karena mendapati ini hanya mimpi,” jelasnya.

Aku hanya mencium ujung hidungnya sebagai jawaban.

“Jangan pergi dariku lagi. Aku mohon,” pintanya.

Apakah aku melihat matanya berkaca-kaca?

“Besok pagi,” kataku, “Aku harus kembali ke Jejudo.”

Matanya meredup. Dia memelukku erat sekali.

“Dan besok pagi juga aku akan bangun pagi dengan tanganmu melingkar memelukku. Lalu kamu akan mengantarku.”

Dia mendongak mendengar perkataanku.

“Dariku, aku berikan satu janji untukmu. Aku tak akan berpaling ketika kau tak melihatku,” ujarku.

Dia mendesah, “Dan aku akan membingkai alamat dan no. teleponmu. Kuletakkan di samping tempat tidurku agar tiap pagi aku selalu teringat meneleponmu.”

Aku tersenyum, “Aku senang aku memutuskan datang di pesta ulang tahun temanku malam ini,” lalu menciumnya dalam.

 

Leeteuk POV

Sebuah teriakan membangunkanku, “Aaaaaaaaaaaa!”

Aku membuka mataku yang terasa sepet. Sialan si Eunhyuk. Mengagetkan saja. “Sssh!” aku berusaha melotot padanya menyuruhnya diam dengan mata yang masih terasa rapat.

“Apa yang kaulakukan di kamarku?!” katanya tanpa suara.

Tanganku mengeratkan pelukanku di pinggang Bee yang tampaknya tidak terbangun akibat teriakan Eunhyuk. Kulirik jam, ternyata masih pukul 4.30  pagi. Apa anak-anak itu baru pulang? Ciss, dasar anak muda tidak bisa menjaga kesehatan. Akan kumarahi mereka nanti.

Kukibaskan tanganku menyuruh Eunhyuk pergi. Dengan tidak rela dia keluar kamar sambil melihat sebal ke arah pakaianku dan pakaian Bee yang berserakan di lantai.

Begitu Eunhyuk keluar, tiba-tiba tangan Bee terangkat menyentuh pipiku. “Jadi ini bukan kamarmu?” tanyanya sambil lebih merapatkan tubuhnya ke arah tubuhku. Gairahku pun muncul lagi.

“Selamat pagi,” sapaku.

Morning,” balasnya sambil membuka mata.

Kami saling bertatapan beberapa saat. Lalu,

“Hai. Perkenalkan, namaku Park Jungsoo.”

Dia menciumku di bibir mesra sekali. “Hai, namaku Beauty.”

 

 

KKEUT.

Iklan