Tag

, , ,

Author: BeeNim|Cast: Lee Donghae, Kim Yesung, NN|Bee’s note: cerita ini datangnya dari mimpi, yg terus belanjut jadi cerita.|urlhttp://wp.me/p1rQNR-5 (1st: http://wp.me/pPJpS-1ZN)

Rumah itu tampak kosong. Sebenarnya sih itu bukan rumah, cuman sebuah studio yang dipakai oleh uri Donghae.

Aku ga pernah ngerti jalan pikiran cowokku itu. Dia ga pernah ngajak aku masuk ke tempatnya, padahal dia sering ngajak aku mampir sebentar sekedar untuk ngambil barang yang ketinggalan. Tapi ya aku selalu disuruh nunggu di mobil. Ga pernah sekalipun dia itu bilang “Yuk, minum dulu bentar di dalem,” atau apaaa gitu. Padahal dia kan tinggal sendirian, jadi aku juga ga ngerti kenapa aku ga pernah boleh masuk rumahnya.

Faktanya, dia ngasih tahu aku kode pengamanan rumahnya. Jadi sebenarnya aku bisa kan ke tempat dia kapan aja? Tapi dia pernah bilang, “Ga usah dateng kalo ga penting banget.” Pernah malah dia bilang “Kalo ada yang mau diomongin, telepon aja biar aku yang nyamperin kamu. Kamu ga usah dateng ke tempatku.” Intinya mah, setiap aku cari-cari alasan buat ke tempatnya, sama dia selalu ga boleh. Alasan dia selalu masuk akal, jadi aku ga bisa ngebantah juga.

Tapi kali ini aku harus dateng. Gimana enggak? Dia itu udah ga ngasih kabar selama dua bulan! Aku bukan tipe cewek posesif, dan aku bukan tipe yang suka keseringan sms nanyain kabar atau ngasih kabar ke cowokku, tapi kalo dua bulan full tanpa kabar sama sekali, apa iya aku bisa tenang?

Biasanya, kalau mau ga ketemu lama dia pasti sms. Entah itu “Aku ada kerjaan seminggu ini.” Atau, “Aku ga bisa ketemu kamu, dikasih PR banyak nih sama Si Bos.” Meskipun aku ga tanya, dia biasanya ngasih kabar dulu kalau mau lama ga ketemu.

It’s completely fine! Kalau udah begitu ya udah, yang penting aku tahu dia ngapain, ya aku ga akan kepikiran. Kalau kepikiran ya tinggal sms. Paling lambat dua hari dia ngebales sms-ku. Waktu kapan itu juga pernah kok kita ga ketemuan sampe hampir 3 bulan. Tapi aku tahu dia ngapain, kemana, dan dia juga ngebales sms-ku walau ga segera.

Lah ini?

Dua bulan yang lalu dia sms “Makasih ya hari ini. Kencannya istimewa banget. Makasih udah mau nemenin walaupun aku mintanya mendadak,” setelah kita pulang kencan. Hari itu, pagi-pagi dia kirim sms minta ketemuan dan bilang bahwa dia baru dapet bonus dari boss-nya. Dia pengin ngerayain bareng aku. Kebetulan aku ga ada kuliah dan baru aja mau ngajakin sohib-sohibku jalan. Untungnya dia sms duluan, jadi ya aku milih ketemu dia dong, biarpun baru 3 hari sebelumnya kami ketemuan. Setelah hari itu, sekalipun dia ga kirim kabar. Sms-ku ga ada satu pun yang dibales.

Ini aneh. Aneh banget. Aku khawatir banget sama dia. Jangan-jangan dia terlibat masalah. Habisnya, menurut aku pekerjaan dia itu misterius. Ga jelas. Dan dia ga pernah mau ngejelasin.

Jadi di sinilah aku. Di depan pintunya. Siap menekan angka kombinasi keamanan rumahnya. Aku mungkin perempuan yang agak cuek, tapi aku tahu perasaanku saat ini sama sekali ga ada hubungannya dengan cuek. Kalau rumahnya berdebu, berarti dia memang pergi jauh, dan aku harus siap jadi lebih khawatir lagi. Kalau rumahnya relatif bersih, berarti aku harus siap merasa sedih karena berarti he is around, but just doesn’t care enough to let me know.

Klik. Terdengar suara pintu membuka begitu aku selesai menekan angka-angka yang tepat.

Oke, jadi dia memang tidak berniat menghindari aku. Tapi aku jadi makin khawatir. Karena jangan-jangan dia memang pergi jauh dan terlibat masalah sampai ga sempat ngurus rumahnya.

Apa yang aku lihat di dalam rumah membuatku terkejut. Rumahnya rapi. Aku menjelajahi rumah itu, berusaha mengenal ruangan-ruangannya. Kecuali tempat tidur yang ditata dengan asal-asalan, perabot lain tampak biasa saja dan tidak berdebu. Sepertinya dibersihkan setiap hari. Menyadari itu hatiku mencelos. Aku memasuki satu sudut yang sepertinya dapur. Di tempat cuci piring terdapat satu cangkir bekas kopi dan satu piring yang sepertinya baru dipakai tadi pagi. Artinya dia tidak pergi kemana-mana.

Aku mundur dan berbalik. Bengong, sibuk mengambil kesimpulan sendiri. Sampai aku menabrak tempat tidurnya.

Aku duduk di sana, kuraba pelapis kasurnya, dan tiba-tiba aku merasakan air mataku mengambang, lalu dengan cepat jatuh. Dia dimana sih? Ngapain? Apa perasaannya ke aku udah sirna? Kenapa untuk ngasih kabar aja ga peduli? Kenapa sms-ku ga pernah dibales? Aku salah apa sama dia? Kenapa dia begini sama aku?

Aku terguguk di atas kasurnya. Samar-samar tercium aroma tubuh Donghae yang sudah sangat kukenal dari selimutnya.

Aku ga tahu apa yang kulakukan selagi menangis. Kulepaskan semua rasa kesal, sedih, khawatir dan terutama rasa rindu di atas tempat tidurnya.

Di kamar yang gelap, dengan penerangan hanya dari lampu luar, aku menangis sendirian di atas kasur Donghae. Memeluk bantalnya. Saat aku mencium aroma tubuhnya, saat itulah pertahananku jebol. Aku begitu merindukannya. Aku ga bisa berpikir. Hanya kangen. Pengin ketemu. Pengin memeluknya seperti sedia kala.

Ga sadar sudah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena leherku terasa kaku. Kubuka mataku dan kudapati wajah Donghae hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku mengerjap.

Kalau ini hanya mimpi, aku ga mau merusaknya dengan menyentuh wajah kekasih yang kurindukan. Kubiarkan saja dia di sana. Aku akan menikmati pemandangan yang perlahan menjadi kabur karena air mata. Kukerjapkan mataku cepat-cepat sehingga air mata itu jatuh. Tidak. Terlalu lama aku tidak melihatnya. Aku tak mau diganggu bahkan oleh air mataku sendiri.

Dia sedikit mendengkur. Aku sudah tahu itu. Kadang kalau kami berkencan di taman, piknik sederhana, dia suka ketiduran di pangkuanku. Dengkurannya selalu kunikmati. Sangat manis.

Tiba-tiba terdengar suara pintu digedor. Dia mengernyit sedikit lalu membuka matanya.

“Wooy! Lee Donghae! Cepat buka pintunya!” terdengar suara kasar pria dari balik pintu itu.

Dia terlihat bingung dengan keadaan sekitarnya. Terutama dengan wajahku yang tepat di depannya.

Anehnya saat itu aku bersikap tenang sekali, berkebalikan dengan perasaanku yang sedang bergolak hebat. Firasatku mengatakan sesuatu yang menyakitkan akan terjadi.

Pintu digedor lagi. “LEE DONGHAE!” seru suara orang yang menggedor tidak sabar.

Donghae berjingkat bangun dari tidurnya dan segera menyambar tanganku. Ditariknya aku bersamanya, dan tiba-tiba aku sudah bersamanya di dalam kamar mandi.

“Tunggu di sini,” bisiknya. Ketika dia hendak pergi karena gedoran pintu semakin tidak sabar, aku meraih tangannya, memohonnya jangan pergi.

Sorot matanya menunjukkan ketidaksabaran, tapi bisikannya tetap terkontrol, “Jangan sekarang.”

Aku mau sekarang. Kuterjang dia dan kucium bibirnya. Air mataku jatuh tepat ketika bibirku menyentuh bibirnya.

Selama 2 detik dia kaget tak merespon. Sedetik berikutnya dia melepaskanku dengan kasar. Sinar matanya menakutkan, bisikannya tajam, “JANGAN BEGITU. TUNGGU DI SINI!”

Lantas dia menghilang dengan cepat dibalik pintu kamar mandi.

Aku menggigil. Donghae begitu menakutkan. Kami bukan tidak pernah bertengkar. Dia bukan tidak pernah marah atau berteriak padaku.  Tapi kali ini dia mengancamku. Sinar matanya itu, baru kali ini aku lihat. Ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa uri Donghae berubah? Siapa orang itu? Aku tak mengenalnya!

“Di luar kamar mandi terdengar orang yang tadi menggedor pintu menghardik Donghae. “Lama sekali sih kau?! Ayo cepat. Mirae sudah menunggu.”

Mirae? Siapa Mirae?

“Arasseo. Ayo pergi.” Aku mendengar Donghae menyahuti. Lalu suara pintu ditutup.

Lalu hening.

Apa? Apa yang terjadi?

Aku menggeleng-geleng. Tidak. Dia tidak boleh pergi. Dia harus menemuiku dulu. Tidak. “Donghae-a. Ani. Andweh. Donghae-a..”

Aku berlari keluar kamar mandi. Hanya untuk mendapati rumah itu sudah kosong lagi. “Donghae-a..” panggilku lemah. Kubuka pintu depan dan kulihat pendar lampu belakang sebuah mobil menjauh. Meninggalkan aku sendiri. Dia tidak menjelaskan apapun padaku. Hanya mengancamku. Hal yang paling tidak pernah kuduga dapat dilakukannya.

… (oke, di sini mimpi gw berakhir. Gw kebangun dengan perasaan sedih karena ditinggal pergi sama Donghae. Dasar sialan. *plakplak* ditampar sama ikan-ikan. PS: ada air mata beneran lho, di mata gw, bahkan ada bekasnya di bantal gw. Eh, apa itu iler ya?)…

Sinar matahari pagi memasuki lubang angin. Rumah Donghae kini bermandi cahaya matahari. Meskipun sangat sederhana, sistem ventilasi rumah ini sangat banyak, sehingga udara segar dan cahaya bisa masuk dengan mudah dari segala arah.

Dari tempatku duduk di meja makan, aku menengadah mengamati cahaya yang masuk. Apa aku harus kuliah hari ini? Tapi aku ga ingin kuliah. Aku ga kepengin ngapa-ngapain dengan perasaan begini. Aku cuman pengin nungguin Donghae-ku pulang. Karena sekarang aku tahu dia masih ingat pulang.

Tiba-tiba terdengar pintu depan terbuka. Terdengar seseorang menguap. Kupalingkan wajah ke arah pintu masuk dan mendapati wajah Yesung di sana.

“Hai..” ujarnya.

Aku diam saja. Kenapa aku tidak pernah kepikiran tentang Yesung ya? Dia satu-satunya teman Donghae yang aku tahu sangat dekat. Harusnya dia tahu apa yang sedang dilakukan Donghae.

“Donghae.. dimana?” tanya Yesung padaku.

Kurekatkan gerahamku. Apa maksudnya menanyakan itu? Dia hanya ingin mengujiku? Apakah aku tahu atau tidak mengenai situasi terakhir pacarku itu. Baiklah, kalau dia mau bermain, aku juga bisa.

“Dia sudah pergi tadi malam,” jawabku sok yakin.

“Oh,” katanya.

Yesung tidak mengatakan apa-apa lagi dan melangkah menuju kulkas. “Kau sudah sarapan?” tanyanya.

Aku tidak percaya dia menanyakan itu padaku. Dia berutang penjelasan padaku! Aku tahu dia tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa mengenai Donghae! Dia harus menjelaskannya padaku! Aku marah sekali.

Lalu dengan cepat kemarahanku berubah menjadi kesedihan karena mengingat Donghae. Air mataku mengambang lagi. Apa yang terjadi dengan Donghae-ku?

Karena aku diam saja, Yesung menoleh ke arahku. Gerakannya membuka pintu kulkas terhenti. Dia melihat air mata bergulir di pipiku. Ditutupnya lagi pintu kulkas, lalu menghampiriku.

“Aku merindukannya.” Ucapku di sela-sela tangis.

Yesung memegang lengan atasku. “Jeongmal bogoshipo,” rintihku lagi.

Aku tak punya kata lain. Aku benar-benar merindukan Donghae. Hanya itu yang kutahu.

“Sssh,” bisik Yesung. “Aku tahu. Menangislah.”

“Aku merindukannya.”

“Hmm, areo..” dia memelukku

“Aku kangen.”

Yesung tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku terus merintih, mengatakan aku rindu, aku kangen. Donghae. Uri saranghaneun Donghae-a.

Entah sudah berapa lama aku menangis. Akhirnya air mataku berhenti sendiri. Yesung sudah duduk di sampingku di atas meja. Lengan kirinya terus memeluk bahuku. Ketika akhirnya aku mengangkat wajahku untuk melihatnya, dia sedang memperhatikan aku. Kami saling menatap untuk beberapa saat.

Tatapanku penuh tanya. Tatapannya penuh permintaan maaf. Lalu, “kriuuk..”

Wajah Yesung memerah. “Aku lapar,” katanya tersipu.

Dia melepaskan pelukannya lalu melompat turun dari meja. “Ayo, kubuatkan kau sarapan. Kau tidak boleh sakit karena kelaparan.”

“Jissh,” bantahku tapi tak ayal aku turun juga dari meja dan pindah ke kursi makan.

“Apa kau mau bibimbap?” tanya Yesung sembari melihat isi kulkas.

“Apa aja lah, toh aku ga bakal ngerasa juga.”

Dia tidak bicara apa-apa lagi dan mulai mencuci beras. Sambil memasak nasi, dia mengeluarkan kimchi dari kulkas, merebus sayur-sayuran. Dia sangat berkonsentrasi dengan kegiatannya, sementara aku hanya mengamati. Toh aku juga ga berselera ngomong.

Ketika akhirnya nasi matang, dia berseru, “Ah, tepat sekali waktunya. Sayurnya juga sudah matang!”

Dia hendak mengambil mangkok untuk makan ketika tiba-tiba teringat sesuatu. Diliriknya aku, lalu tersenyum girang sendirian. “Kau tahu,” katanya. “Bibimbap itu harus dimakan bersama-sama. Baru bisa terasa enak.”

Lalu dia mengambil mangkok paling besar yang bisa ditemukannya, mengambil dua porsi besar nasi, dan memasukkan semua sayuran yang tadi direbusnya, menempatkan kimchi di meja makan, lalu mengaduk-aduk nasi dengan sayur. Ditaruhnya di atas meja, mengambil dua buah sendok, menyerahkan yang satu untukku, lalu berseru, “Selamat makaaaaan!”

Dia makan dengan sangat lahap. Di suapan ketiga, dia melihatku belum menyuap sesendok pun. Lalu diambilnya satu sendok dan diarahkan ke mulutku. “Aaaaa..” bujuknya.

Aku tersenyum malas. “Apa-apaan sih,” berusaha menepiskan tangannya.

“Bibimbapku jadi kurang rasa gara-gara kau tidak makan, tahu?! Jangan sampai aku jadi sakit gara-gara tidak makan dengan baik ya! Ayo makan!” paksanya.

Konyol. Tapi kubuka juga mulutku. Dia memasukkan satu sendok penuh nasi, akibatnya mulutku membulat dan selembar bayam menggantung di pinggir bibir.

Aku mencoba memprotes karena dia memasukkan banyak sekali nasi, tapi yang terjadi malah aku menghujaninya dengan nasi yang muncrat dari mulutku.

“Eiiissshhh..” ujarnya sambil mengelak seranganku.

Aku menikmati kepanikannya sambil melanjutkan mengunyah. Setelah satu suap itu baru aku menyadari bahwa aku sangat lapar. Mungkin energiku sudah habis untuk menangis, makanya saat ini aku sangat lapar. Kusantap bibimbap buatan Yesung dengan lahap seperti tak pernah makan sebelumnya.

Yesung tersenyum melihatku dan mulai memprovokasiku untuk makan lebih banyak. Dia menggangguku ketika aku mengambil nasi, mengatakan bahwa aku mengambil jatahnya. Lalu kami juga berlomba mengambil nasi. Kami makan dengan ribut sekali. Kami bertarung mengambil bayam terakhir dan aku merasa pertarungan kami ini lucu sekali. Habis dia serius banget sih.. cuman buat selembar bayem doang gitu loh.

Aku tergelak-gelak dengan nasi masih ada di mulutku. Lalu kulihat wajah Yesung yang masih tidak terima karena bayamnya kuhabiskan. Mendadak air mataku mengalir lagi.

Awalnya Yesung tidak menyadari bahwa tawaku sudah berhenti. Ketika dia menyadarinya, dia melihat wajahku dan terkejut.

“Appua dshia ma-an dengan benar?” tanyaku pada Yesung dengan mulut penuh nasi.

Pria itu mengangguk. “Jangan khawatir, dia selalu makan dengan benar.”

“Hu hu hu hu hu..” Aku tidak bisa melihat lagi. Nasiku jadi asin karena air mata. Aku menghentikan makanku. Sedih sekali rasanya, aku bahkan ga tau apa dia makan dengan benar selama ini.

Beberapa saat baru tangisku reda. “Mian,” ujarku meminta maaf pada Yesung.

“Ga pa-pa,” jawabnya sambil menunduk. Rupanya dia juga menghentikan makannya. “Meskipun aku tidak suka melihatmu menangis, tapi aku bisa bayangkan perasaanmu. Menangislah sampai kau lega. Aku akan berada di sini menemanimu. Tapi aku ingin meminta tolong satu hal padamu.”

Aku menatapnya bertanya.

“Setelah menangis, kau harus membantuku menghabiskan bibimbap ini.”

Mau tidak mau aku tersenyum sedikit. Aku mengangguk.

Meski air mataku sudah tidak keluar, tapi aku masih sedih. Selama itu juga Yesung tidak menyendok sesuap pun. Aku menarik nafas, “Ayo kita makan lagi,” ajakku.

Yesung meringis. Tanpa sepatah kata kami mulai makan lagi. Makan sesi dua ini lebih beradab , lebih tenang. Kami menghabiskan bibimbap dalam diam.

Selesai makan aku membantunya membereskan meja makan sementara dia mencuci piring. Setelah selesai dia bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan hari ini?”

Aku menggeleng. “Aku akan menunggunya di sini.”

“Tapi kamu kan ga tahu kapan dia pulang.”

Aku menatapnya. ‘Katakan padaku kalau kamu tahu kapan dia akan pulang, kalau begitu’. Kira-kira begitu arti tatapanku.

“Jangan melihatku. Aku juga ga tahu dia pulangnya kapan. Aku cuman ketemu sekali-sekali aja sama dia.”

Aku menatap lantai dan berpikir.

“Lebih baik kamu pulang dulu aja deh. Kalau malam dia kayaknya lebih sering di rumah, meskipun cuman buat tidur, jadi mungkin kamu bisa ketemu dia saat itu.”

“Mungkin kamu benar.” Akhirnya aku menyerah.

“Aku anterin kamu pulang ya? Dari sini ke halte bis jauh loh. Aku juga lagi ga ada kerjaan, jadi bisa sekalian nganterin kamu pulang.”

Aku tersenyum. “Terima kasih,”

Aku memang berterima kasih padanya. Kalau aku mau menangis lagi, sepertinya lebih baik kalau aku ada di motor daripada di bis umum. Salah-salah bisa dikira orang gila sama penumpang lain.

“Eh, tapi kamu cuci muka dulu sana. Mukamu kusut banget deh, sumpah.”

“Sialan kamu.” Tapi aku pergi juga ke kamar mandi.

Malam itu aku datang lagi ke rumah Donghae. Aku menunggunya sambil menonton tv. Suara tv sengaja kumatikan. Aku juga tidak menyalakan lampu. Aku malas. Lampu dari luar sudah cukup untuk saat itu.

Lewat tengah malam, aku mendengar kunci pengaman ditekan. Aku menoleh ke arah pintu. Begitu orang itu masuk, aku tahu itu Donghae-ku.

Dia terdiam melihat sepatuku di depan keset. Lalu dia menoleh ke arah tv yang menyala.

“Sudah pulang?” tanyaku.

Dia tidak menjawab, malah terus berjalan ke arah dapur. Kudengar pintu kulkas dibuka dan ditutup. Aku tetap duduk diam menatap kosong ke arah televisi.

“Kau sudah makan?” terdengar suara Donghae dari dapur.

Aku tidak menjawab, dia juga tidak bertanya lagi. Sesaat kemudian lampu di atas tv menyala. Terdengar suaranya dari belakangku, “Jangan menonton tv dalam gelap. Matamu nanti sakit.”

Hatiku yang sedang sakit, pacarku sayang… gumamku dalam hati. Tapi aku bahagia sekali bisa mendengar suaranya yang biasa lagi. Jadi aku diam saja.

Dia melemparkan tubuhnya duduk di sebelahku. Di tangan kirinya ada sepanci ramen dengan sepasang sumpit dan sebuah sendok. “Kenapa nonton tv tanpa suara?”

Aku tetap menatap lurus ke depan.

Dia mengabaikan kediamanku. “Ayo makan, aku sudah buat ramen nih. 2 sekalian.”

Aku menoleh padanya, melihat bahwa dia sudah mengambilkan sejumput ramen, siap menyuapkannya padaku. Kuterima suapannya, lalu dia menyuap untuk dirinya sendiri.

“Kamu capek?” tanyaku dengan suara terkendali, padahal pikiranku berisi macam-macam pertanyaan.

Dia menatapku. “Yah, lumayan. Hari ini melelahkan.” Dia menyuapiku lagi. Kali ini sesendok air ramen.

Aku menerimanya dan tidak mampu melepaskan sendok itu dari mulutku sebab aku mulai menangis.

Donghae membeku sesaat, lalu meletakkan panci ramen di atas meja. Dia menarik sendok dari mulutku dan meletakkannya di dalam panci.

Kedua tangannya merengkuh kepalaku, lalu dia mengecup kedua mataku. “Uljima. Mianhe. Naega jalmothesseo. Jongmal mianhe,” bisiknya.

“Neon nappeuneomal! Brengsek kamu! Kamu laki-laki sialan!” isakku.

“Aku tahu. Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Jangan nangis lagi. Hatiku sakit ngeliat kamu begini.”

“Terus apa yang kamu harapkan? Aku senyum bahagia buat kamu?!” aku meledak. Aku bener-bener ga ngerti sama logikanya. Kalau dia ga tahan ngeliat aku nangis, kenapa dia nyakitin aku segininya?!

“Sms-ku ga pernah kamu bales. Aku telepon ga diangkat. Aku ga pernah kan maksa kamu nemenin aku setiap waktu aku butuh kamu?! Meski kangen aku bisa nahan diri! Asal kamu masih inget aku itu udah cukup! Tapi kamu kemana?” aku mulai memukuli dadanya.

“Dasar brengsek kamu! Brengsek!” aku sesenggukan sambil terus menyerangnya. Dia tak merespon.

Ketika akhirnya aku lelah, tanganku gemetar. Sambil terus menangis aku berbisik, “Aku kangen kamu. Aku khawatir sama kamu. Aku kepikiran tentang kamu. Aku kangen.. aku kangen banget.”

Kuangkat wajahku, kutatap matanya, “Aku kangen kamu, Donghae. Aku kangen.”

Matanya berkilat oleh air mata. “Maafkan aku,” katanya langsung menciumku.

Ciuman kami terasa asin. Kuraba pipinya yang sekarang basah. Mataku terbuka karena aku tak mau tidak melihatnya lagi.

“Maafkan aku,” bisiknya di sela-sela ciumannya.

“Maafkan aku..”

Ciuman ini meluluhkan segalanya. Rasa kesalku, penyesalannya, kerinduan kami masing-masing.

Kubalas ciumannya, dan kami saling melepaskan rindu yang sudah tertahan dua bulan ini. Ciuman kami dengan cepat berubah menjadi penuh gairah. Tangannya sudah tak lagi di kepalaku. Digunakannya kedua tangan untuk menekanku ke arahnya. Aku bisa merasakan bahwa dia masih menginginkanku. Masih mencintaiku. Dia tidak mengabaikanku.

Tiba-tiba dia berhenti. Melepaskanku dengan sebuah hentakan. “Aku lapar. Mari kita habiskan ramennya.”

Dia menahan dirinya kuat-kuat. Dia masih ingin menciumku seperti aku masih ingin menciumnya, tapi dia memutuskan itu bisa dilakukan nanti. Dengan rakus dia mencoba menghabiskan ramen yang tersisa.

“Hey, kau pikir aku tidak lapar menunggumu dari tadi?!” ujarku pura-pura menghardiknya.

Gerakannya menyedot ramen terhenti sesaat, lalu dia tersenyum menyebabkan ramen-ramen itu kembali jatuh ke panci. “Berikan padaku. Aku juga mau,” pintaku setengah memaksa.

Kami lalu berebut panci. Aku berusaha mendapatkan ramen dengan sendok, sementara dia lebih sukses karena dia pakai sumpit. Kami berdua tergelak saat sumpitnya beradu dengan sendokku. Kami bisa tertawa bersama lagi. Betapa menyenangkan. Akhirnya aku memenangkan satu sendok ramen terakhir.

Kumasukkan sendok terakhir itu dalam mulutku sambil menggodanya. “Aku menang. Week..”

Mendadak Donghae meletakkan panci ramen dengan kasar di atas meja. Merebut sendok yang kupegang dan melemparnya ke dalam panci asal-asalan. Meleset, tapi dia tidak peduli. Didorongnya aku hingga rebah di sofa. Dia mulai menciumiku.

Meski terkejut, aku membalas ciumannya. Bibir bertemu bibir, lidah beradu lidah. Kami saling menyesap rasa masing-masing. “Kamu rasa ramen..” desahnya.

Aku tertawa, “Ya iyalah, pabo.”

Kami masih terus berciuman. Tangannya sudah kemana-mana, tapi bibirnya tetap di mulutku.

“Aku benar-benar merindukanmu,” Donghae berkata lagi.

Kali ini senyumanku disertai air mata. “Lalu kenapa kamu mengabaikanku?”

Donghae berhenti sejenak, lalu duduk, menarikku bersamanya. “Aku tidak pernah mengabaikanmu. Ga sehari pun aku bekerja tanpa keinget wajahmu. Kamu itu setan yang selalu menguasai pikiranku.”

“Sialan kamu. Masa aku setan sih?”

“Terus apa dong namanya kalau selalu ngeganggu pikiranku?”

“Aku ini Mak Lampir, tau.. Bukan setan biasa.”

“Hahaha.. Iya, Mak Lampirku yang cantik.”

Dia menciumku lagi dengan lembut. Kami terus berciuman dengan mesra sambil berjalan ke arah tempat tidur.

Begitu menyentuh tempat tidur, Donghae melepaskan ciumannya. “Tidurlah di sini, aku bisa tidur di sofa.”

Aku terharu dia masih bisa menahan diri mengingat perjanjian kami tentang tidak tidur bersama sampai menikah (idiiiihh,, di sini klise banget deh. Tapi kan gw ga mau ngebayangin Donghae gw tidur sama cewek yang bukan istrinya. Tidur sama ikan bolehlah..). Maka aku mengangguk, menghargai keputusannya. Aku menyusup ke dalam selimut lalu dia mengecup bibirku singkat sembari berbisik, “Selamat tidur, Sayang. Saranghe.”

Kulingkarkan leganku ke lehernya. “Biarkan aku mengecupmu sebentar lagi.” Kunikmati rasa bibirnya sedikit lebih lama, lalu dengan tidak rela melepasnya. “Selamat malam, Sayang,” kataku.

Dia berbalik ke sofa. Dan aku memejamkan mata.

Tapi aku ga bisa tidur!

Kusibakkan selimut dan berjalan ke arah sofa. Aku berhenti di samping sofa. Terdiam melihat pucuk kepala Donghae yang sudah berbaring.

Donghae tiba-tiba duduk, “Duduklah di sini. Aku juga ga yakin aku bisa tidur malam ini,” katanya.

Aku menghambur ke punggungnya. Kupeluk dia dari belakang, ga puas-puas menghirup aromanya. “Aku masih rindu padamu,” kataku.

Dia berbalik dan melingkarkan lengannya ke bahuku. “Sayangku…” desahnya.

Malam itu kami habiskan menonton acara-acara malam yang diputar di televisi sambil berpelukan.

Sudah seminggu sejak kami memperbaiki hubungan kami. Waktu itu, pagi harinya Donghae berjanji tidak akan membuatku khawatir lagi. Dia beralasan bahwa sebelumnya dia tidak memberiku kabar sama sekali sebab sekali saja dia tergoda menghubungiku, dia akan merasakan rindu yang amat sangat dan takut tidak berkonsentrasi bekerja. Kini dia sudah terbiasa dengan jam kerjanya yang baru sehingga dia mengatakan akan memiliki lebih banyak waktu untukku. Bahkan kemarin dia mengajakku kencan di akhir pekan. Itu berarti lusa dan hari ini aku sedang berbelanja sebab aku ingin mempersiapkan bekal untuk kencan kami.

Namun Donghae tetap menolak menjelaskan padaku apa pekerjaannya sebenarnya. Sewaktu kutanya siapa Mirae, siapa pria yang menggedor pintunya malam-malam waktu itu, dia mengatakan bahwa mereka berdua adalah partner barunya. Waktu aku protes kenapa dia ‘nyimpen’ aku di kamar mandi, dia mengatakan bahwa dia tidak ingin aku merasa malu ketika orang melihat aku tidur di ranjangnya padahal semua temannya tahu dia belum memiliki istri.

Rumah Donghae memang terbuka. Ketika membuka pintu, semua bagian rumah bisa langsung terlihat kecuali kamar mandi. Memang benar, jika saat itu temannya melihatku, Donghae pasti harus memperkenalkan wanita yang meniduri tempat tidurnya, dan aku pasti akan merasa canggung sekali sebab itu pertama kalinya aku menginap di rumah cowok.

Yah, sekarang ini sih aku sudah cukup puas. Donghae juga sudah menepati janjinya untuk tidak lagi membuatku khawatir.

Ketika aku sedang melihat-lihat pojok sayur-mayur, seseorang menyentuh bahuku.

“Yesung ssi!” seruku terkejut.

Di hadapanku Yesung tersenyum lebar. “Hai. Bagaimana kabarmu?”

“Ne, baik sekali,” jawabku. “Aku dan Donghae udah baikan,” lanjutku disertai senyum lebar.

“Waa~ baksu!” dia bertepuk tangan sendirian, mengundang perhatian beberapa orang yang lewat.

“Apaan sih,” sergahku agak malu dengan reaksinya.

“Jadi kamu sama Donghae udah cerita-cerita nih, ceritanya..” ujarnya sambil memilih-milih zucchini.

“Iya. Dia bilang, dia dipromosikan di posisi baru dan cukup sibuk dengan awal-awal training. Sekarang ini dia udah ga absen lagi ngasih kabar ke aku.”

Gerakan tangan Yesung terhenti. “Training?”

“Ya. Dia juga dapet partner-partner baru. Mereka keliatannya sibuk banget. Abis malem-malem aja bisa tiba-tiba harus ngantor. Jadi heran, sebenernya dia kerja apa sih?”

Yesung melewatiku. “Wah, tomatnya seger banget! Hei, coba liat ini. Kamu harus beli tomatnya. Nih, ambil,” serunya tiba-tiba sambil meletakkan 3 kotak tomat ke dalam kereta belanjaku.

“Hei, hei, aku ga butuh tomat kok.. Lagian kalaupun butuh ya ga sebanyak ini, kali.. Lebay deh lo, Yesung ssi.” Protesku sambil mengembalikan tomat-tomat itu ke tempatnya semula.

“Eeeh, ini mumpung tomatnya lagi didiskon. Sekalian buat stok. Kamu ga tau apa tomat baik banget buat kesehatan mata, tau. Biar mata kamu yang capek nangis kemaren itu dapet asupan gizi baru. Udah deh, nurut aja!” katanya keras kepala. 2 kotak tomat pun kembali nongkrong manis di keretaku.

“Oke, oke. Aku nurut.”

Aku melanjutkan, “Eh, hari minggu nanti aku mau kencan lho sama Donghae. Dia yang ngajak, lagi.”

Yesung menatapku, kemudian tersenyum. “Wah, itu bagus.”

“Iya, makanya sekarang aku belanja soalnya aku mau bikinin bekal kesukaan dia.”

“Emang kamu mau bikin apa?”

“Ng, rahasia dong. Soalnya ini masakan istimewa.”

“Halllah, palingan juga kimbap.”

“Hehe, itu juga sih. Tapi aku juga mau bikinin dia pangsit dumpling.”

“Pangsit dumpling? Apa tuh?”

“Itu aku nemuinnya ga sengaja. Karena bosen sama makanan yang itu-itu aja, aku nyoba ngegoreng dumpling sampe kuerrring. Kebeneran pas itu Donghae dateng. Jadi aku suruh cicipin sekalian. Eh, besok-besoknya dia minta dibikinin lagi.”

“Kok kayaknya enak. Jadi laper nih.. mana aku belum sarapan, lagi..”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Wah, jam segini mah udah jam makan siang. Kita makan aja yuk kalau gitu. Belanjaku udah selesai nih. Kamu gimana?”

“Hmm, sedikit lagi. Aku butuh senter radio sama tali gunung.”

Aku melihat kereta belanjanya. Keset, kaos obralan, sayuran, pemukul baseball plastik, dan dia masih butuh senter radio sama tali gunung? Sebenernya orang ini mau ngapain sih? “Ya udah, ayo aku temenin nyari. Kalo udah selesai kita makan bareng ya? Aku yang traktir deh. Aku kan belum sempat berterima kasih sama kamu karena udah nemenin aku malem itu.”

Dia tertawa. “Wah, untung banget nih ketemu kamu di sini. Asyiiiiiiiik.. ditraktir!”

“Dasar kamu,” tawaku.

Selesai membayar aku dan Yesung sibuk mempertimbangkan beberapa tempat makan yang enak. Akhirnya kami memutuskan akan makan jajangmyun. Saat berjalan menuju warung jajangmyun rekomendasiku, tiba-tiba Yesung ssi berhenti.

“Lho, Yesung ssi. Kenapa?” aku keheranan.

“Ng, anu. Aku baru inget kalo aku… aku… aku lagi diet mie.”

“Ih, aneh-aneh aja deh. Udah deh, ga usah khawatir, ini jajangmyunnya dijamin enak kok!” Aku berbalik sambil menarik tangannya.

Tapi dia malah balas menarik tanganku. “Anu, ini karena pencernaanku. Kata dokter aku harus istirahat makan mie. Kita.. kita.. makan ayam goreng aja yuk? Itu ada warung langgananku yang enak banget ayam gorengnya.”

“Eh, tapi.. Tapi kita hampir sampe lho. Itu warung jajangmyunnya…” Mataku menangkap sesuatu, “Donghae-a…”

“Yesung ssi, itu Donghae. Lihat, itu Donghae ada di sana.” Kegembiraanku membuncah melihat pacarku.

Tanganku ditarik Yesung. “Katanya kita mau makan? Aku laper nih… Ayo dong…”

Aku menoleh, “Iya, tapi kita sapa Donghae dulu sebentar ya. Sekalian ajak dia makan.”

Yesung terlihat kecewa, ah tapi biarlah. Donghae kan lebih penting. Lagian cowokku itu lagi keren banget deh. Meuni pake kacamata. Aduh, jadi pengin nyium..

Aku melangkah mendekat dengan perasaan super bahagia. Tinggal 5 meter lagi, tiba-tiba langkahku dicegat oleh dua orang berpenampilan sangar. “Maaf, Anda mau apa?”

“Ah, maaf. Aku hanya ingin menemui pacarku yang di sana itu. Donghe-a! Lee Donghae!” seruku memanggil namanya.

Aku yakin dia mendengarku, sebab kepalanya bergerak mencari sumber suara. Tapi ada yang aneh. Aku yakin dia telah melihatku, tapi kenapa dia malah berbalik memunggungiku.

“Yaaa, Lee Donghae!” seruku lebih keras dan hendak berjalan mendekatinya. Tapi dua orang yang mencegatku tadi malah mendorongku ke belakang. Aku terhuyung hampir jatuh, untung Yesung ssi ternyata menjaga di belakangku.

Belum sempat aku protes, mereka telah melangkah pergi, begitu pula dengan uri-Donghae. Aku berusaha mengejarnya, tapi Yesung menahanku.

“Gwenchanha?” tanyanya mengecek keadaanku.

“Yesung ssi. Itu.. Itu tadi.. Lee Donghae, kan?” tanyaku berusaha mencari dukungan.

“Sudahlah,” jawab Yesung.

“Hah? Sudahlah? Apa.. Itu… Donghae.. Uri-Donghae, majyeo?”

“Ayo, kita pergi dari sini.”

“Chakkan!” aku menolak dibawa pergi oleh Yesung.

“Apa-apaan sih? Kamu juga liat kan, itu tadi Donghae? Dia denger aku manggil kan? Dia liat aku, kan?”

Yesung mendesah, “Mungkin dia ga liat kamu. Kamu kan ga tau, soalnya dia pake kacamata item.”

“Berarti itu bener Donghae, kan?”

Yesung tampak bingung sesaat lalu menyerah, “Iya, itu Donghae.”

Karena masih bingung, aku diam saja waktu Yesung menarikku ke arah warung makan.

Akhirnya kami makan juga, tapi aku masih ga ngerti apa yang terjadi. Aku ga bisa ngerasain apa yang aku makan. Mendadak terdengar telepon Yesung berbunyi.

“Yeboseyo,” sapa Yesung.

Dia terdiam lalu berjalan keluar. Sepertinya pria itu sedang bermasalah. Kuperhatikan di telepon dia seperti marah-marah, lalu dimarahi, lalu balas memarahi lagi, sampai akhirnya dia menutup teleponnya dengan kasar. Kembali ke meja, wajah Yesung berlipat-lipat.

“Gwenchanha?” Tanyaku padanya.

Dia tidak menjawab dan hanya tersenyum basa-basi. Dia malah berbalik tanya padaku, “Setelah makan, kamu ikut aku ya? Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”

“Ne?” aku keheranan.

“Jebal,” mohonnya.

Aku ga tau apa yang terjadi tapi melihat ekspresi dan sikap tubuhnya aku cuman bisa mengangguk. Setelah makan kami pun pergi bersama naik motor Yesung.

Ternyata kami pergi ke rumah Donghae. Firasatku mengatakan aku akan menemui pacarku di sana.

Begitu motor berhenti, aku segera turun dan hendak masuk ke rumah. Namun tanganku ditahan oleh Yesung. “Aku mohon. Jangan masuk dulu. Biar aku masuk dulu. Nanti kalau aku panggil baru kamu masuk. Ya? Aku mohon?”

Keherananku kalau dijumlah-jumlah udah lebih tinggi dari Gunung Bromo kali. Apa-apaan sih ini? Ini kok kayaknya ada yang gawat banget. Tapi apa? Aku ga bisa menduga sama sekali. Selagi aku sibuk berpikir begitu, Yesung mendahuluiku memasuki rumah Donghae. Meninggalkan aku sendirian dengan berbagai pertanyaan. Begitu sadar, aku sudah sendirian di halaman. Otomatis perasaanku langsung ga terima. Kenapa aku harus nunggu? Kan aku pacarnya Donghae. Kalau mau ngomong, kenapa ga langsung aja ke aku? Jadi aku melangkah menuju pintu depan.

Aku membuka pintu dengan mudah dan terpaku menatap apa yang sedang terjadi. Yesung tersungkur di lantai. Kerah bajunya dicengkeram oleh Donghae yang berteriak padanya, “Maksud lo apa? Lo sengaja nunjukin ke cewek gue? Temen macam apa lo?! Padahal gue udah memohon bantuan lo agar ngerahasiain ini dari dia! Lo malah sengaja bawa dia buat ngeliat gue?! Lo ga mikir!?”

“Donghae-a..” sela Yesung.

“Apa lo?! Sialan. Gimana kalo orang lain sampe tau dia pacar gue? Hah?”

“Donghae-a,” sela Yesung lagi.

“Apa lo?!” Donghae masih kalap. “Minta dipukul lagi, lo?!”

“Donghae-a!” kali ini Yesung berseru keras dan berhasil mendorong mundur Donghae.

Kantong belanjaanku jatuh. Donghae terkejut. Dia menoleh, mendapatiku sedang mematung dengan isi kantong belanjaan berserakan.

“Kalau..” aku menelan ludah. “Kalau orang lain tahu aku pacarmu, terus kenapa?” tanyaku serak.

Donghae tersenyum. Matanya berbinar. Dia melemparkan sun jauh, lalu tersenyum lagi.

Melihat itu semua aku hanya terdiam tanpa ekspresi. Sahabat-sahabatku sibuk ngerumpi.

“Aduh, aduh, aduh, aku mati. Aku mati bahagia. Donghae ngelempar senyum ke aku,” ujar Huijin salah seorang sahabatku.

Sahabatku yang lain, Saengmi, menyergah, “Norak kamu ah. Inget ini di tengah jalan rame. Yang kamu liat itu iklan. Ga malu apa kamu diliatin banyak orang.”

“Iya nih, heran deh. Orang aku yang dikirimin sun aja biasa aja,” timpal Yoohui diikuti protes oleh Huijin dan Saengmi, “Heeeeee ish!”

“Heran deh, bisa ya ada cowok sekarismatik, seganteng, sekeren Lee Donghae itu.” Saengmi meneruskan.

“Iya bener. Mana sifatnya juga ramah banget. Baik dan humble. Aduuuuuuuuuh,,, boleh ga sih aku dateng ke kantor agensinya, ngelamar?” Huijin heboh lagi.

“Ngelamar apa? Ngelamar jadi cleaning service? Coba aja sana, siapa tau keterima.” Yoohui memotong diikuti oleh kikikan Saengmi.

Dia menyenggolku, “Kamu mau ikutan Huijin ga? Siapa tau kalian hokinya bareng.”

Aku hanya tersenyum hambar mendengar gurauan sahabat-sahabatku. Berbanding terbalik dengan perasaanku yang sakit. Hampir satu tahun yang lalu, Donghae menjelaskan semuanya padaku bahwa dia memang merahasiakan hubungan kami dari orang-orang. Alasannya adalah karena dia sebenarnya seorang trainee di salah satu perusahaan entertainment. Dalam kontraknya disebutkan bahwa dia harus ‘netral’ dari segala hubungan kecuali hubungan keluarga inti. Masa dua bulan dia menghilang itu, adalah masa-masa dia mempersiapkan debutnya. Dia harus berhati-hati benar agar jangan sampai ada orang yang tahu bahwa dia sedang berpacaran.

Hatiku sakit banget waktu tahu bahwa aku menjadi penghalang bagi karir pacarku. Aku juga marah kenapa ga dari awal Donghae menceritakan ini padaku. Dia bilang, aku ini istimewa. Aku ini di luar segala urusan tentang hidupnya. Hal yang paling murni yang dia jalani saat itu adalah menjalin hubungan denganku. Sebab aku mencintainya apa adanya, menerimanya, dan bisa membuatnya mencintaiku.

Awalnya aku menerima saja alasan itu dan bersedia meneruskan hubungan kami yang diam-diam. Tapi kemudian aku harus menjalani hubungan ‘bisu’ selama berminggu-minggu akibat jadwalnya yang luar biasa sibuk. Aku harus terus diam ketika melihatnya diwawancara dan mengatakan bahwa hubungan pribadi tidak menjadi prioritasnya saat ini. Itu semua masih bisa aku tahankan. Yang membuatku tidak bisa bertahan lagi ternyata adalah kebohongannya. Aku meragukan semua tindakannya di masa lalu, dan itu terus menghantuiku. Ternyata aku sangat lemah.

Akhirnya setelah 3 bulan mencoba, aku putuskan aku tak sanggup lagi. Aku mengatakan aku akan melepaskannya. Saat itu dia tidak mengatakan apapun. Aku terluka. Sangat terluka. Tapi bersamanya bisa membuatku terkikis sedikit demi sedikit. Maka kami pun berpisah tanpa kata-kata berarti.

Selamat tinggal Lee Donghae, jadilah seorang idola yang dicintai banyak orang. Aku yakin kamu pasti bisa. Aku tidak cukup baik untukmu, tapi aku tahu bahwa aku masih mencintaimu jauh di lubuk hatiku. Dan cintaku ini tulus. Hanya untukmu.

.

KKEUT.

Iklan