Wahai kekasih, saat ini, seolah aku bisa melihat langsung ke arah mata gelapmu. Begitu intens kau memandangku, hingga ku merasa caramu memandangku takkan kulupakan seumur hidup. Senyummu membias di sudut bibir memancing tawaku. Kita berdua tertawa. Kita berdua tak tahu apa yang kita tertawakan. Dalamnya kegelapan matamu, pancaran indah senyummu; keduanya berpadu membuatku terhipnotis. Perasaanku meluap. Rongga dadaku mengembang. Sepertinya persediaan oksigen seumur hidupku tengah memenuhi paru-paruku. Hanya karena pandangan serta senyummu kau persembahkan untukku.

Duhai kekasih. Kukerjap mata dan kau menghilang. Berkasmu adalah pertandaku. Bagaikan percikan kembang api. Titik-titik cahaya di gelapnya latar. Warna-warni memudar. Fokus pun menghilang. Dunia kembali suram dengan teriknya mentari bertabur silaunya lampu. Tiba saatnya udara seumur hidupku habis. Kemanakah nafasku? Tak kutemukan. Hembusan angin besar menyapu wajahku; timbul karena kibasan bulu mataku. Angin akal sehat telah mendatangiku. Ku hanya harus bersabar. Menanti saat kita bertemu. Jalan lurus bercahaya membentang di depanku. Harus kulalui sambil berbenah. Sebab di ujung sana ada dirimu. Saat kita bertemu, kan kau temui cantikku. Terima kasih, untuk berada di sana, duhai Kasih..

 

^B^

Iklan